23 Des 2008

ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA


ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA




Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
HADITS-HADITS TENTANG KESEMPURNAAN ISLAM

Hadits Pertama:
Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian” [1]

Hadits Kedua:
Dari Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor burung pun yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan kami memiliki ilmunya”[2]

Perkataan Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu di atas diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (Musnad Imam Ahmad V/153, 162). Kemudian ada syahidnya dari perkataan Abud Darda’Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir sebagaimana dikatakan Imam al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaa’id (VIII/264).

Hadits Ketiga:
Dari Abud Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor burung yang terbang di langit melainkan beliau telah menerangkan kepada kami ilmunya”[3]

Hadits Keempat:
Dari Muththalib bin Hanthab, seorang Tabi’in terpercaya, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari perintah-perintah Allah kepada kalian, melainkan telah aku perintahkan kepada kalian. Begitu pula tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari larangan-larangan Allah kepada kalian melainkan telah aku larang kalian darinya.”[4]

Hadits Kelima:
Dari Salman Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman Radhiyallahu ‘anhu menjawab, ‘Ya!’”[5]

Hadits Keenam:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya kedudukanku terhadap kalian seperti kedudukan seorang ayah, aku mengajari kalian semua….’”[6]

Hadits Ketujuh:
Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami (berkhutbah), tidaklah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan sesuatu pun juga di tempatnya itu (tentang peristiwa-peristiwa) yang akan terjadi sampai hari Kiamat melainkan beliau menceritakannya kepada kami. Akan hafal orang yang hafal dan akan lupa orang yang lupa...”[7]

Hadits Kedelapan:
Dari Abu Zaid (yaitu ‘Amr bin Akhthab Radhiyallahu ‘anhu), “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Shubuh berjama’ah (mengimami) kami, lalu (setelah shalat) beliau naik ke mimbar dan berkhutbah kepada kami sampai tiba waktu shalat Zhuhur. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar dan shalat berjama’ah (mengimami) kami. (Setelah shalat) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik (lagi) ke mimbar dan berkhutbah kepada kami sampai tiba waktu shalat ‘Ashar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar dan shalat berjama’ah (mengimami) kami. (Setelah shalat) kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke mimbar lagi dan berkhutbah kepada kami sampai saat matahari terbenam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan kami tentang apa-apa saja yang sudah terjadi dan yang akan terjadi. (Abu Zaid) berkata, ‘Orang yang paling mengetahui adalah orang yang paling hafal di antara kami”[8]

Hadits Kesembilan:
Umar Radhiyallhu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaijhi wa sallam pernah berdiri (khutbah) di hadapan kami, lalu menceritakan kepada kami tentang awal penciptaan makhluk sampai penghuni Surga memasuki tempatnya dan penghuni Neraka memasuki tempatnya. Telah hafal orang yang menghafalnya dan telah lupa orang yang melupakannya”[9]

Hadits Kesepuluh:
Dari Mughirahzbahwa dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di antara kami pada suatu tempat, kemudian menceritakan tentang apa yang terjadi pada umatnya sampai hari Kiamat. Telah hafal orang yang meng-hafalnya dan telah lupa orang yang melupakannya.”[10]

Hadits Kesebelas:
Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami, menjelaskan sunnah-sunnah kepada kami dan mengajarkan (cara) shalat kepada kami.” (Dalam suatu hadits yang panjang).[11]

Hadits Kedua belas:
Dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’iy Radhiyallahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda pada suatu hari dalam khutbahnya, ‘Ketahuilah sesungguhnya Rabb-ku telah menyuruhku untuk mengajarkan kalian hal-hal yang kalian tidak mengetahuinya, dari apa-apa yang Dia telah mengajarkannya kepadaku hari ini ....” [12]

Imam Malik bin Anas [13] rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah dalam Islam yang ia pandang hal itu baik (bid’ah hasanah), maka sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah agama ini. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah berfirman: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama-mu untukmu...” [Al-Maa-idah:[3]. (Imam Malik rahimahullah selanjutnya berkata), “Maka sesuatu yang pada hari itu bukanlah ajaran agama, maka hari ini pun sesuatu itu bukanlah ajaran agama”[14]

Risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang secara sempurna untuk seluruh umat manusia dan segenap bangsa jin, orang-orang Arab dan non Arab, cocok untuk setiap tempat dan waktu, setiap generasi dan kondisi. Tidak ada suatu kebaikan melainkan telah ditunjukkan oleh Islam dan tidak ada keburukan melainkan telah diperingatkan oleh Islam. Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu agama dari siapa pun selain agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Saya berpesan kepada mereka yang terjerat dalam perbuatan bid’ah, yang mungkin ia mempunyai tujuan baik dan menghendaki kebaikan. Apabila Anda memang menghendaki kebaikan, maka demi Allah, tidak ada jalan yang terbaik melainkan jalan yang telah ditempuh oleh Salafush Shalih.

Wahai saudara-saudaraku, berpegang teguhlah kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ikutilah jejak Salafush Shalih dan laksanakanlah apa yang mereka amalkan dan perhatikanlah apakah hal itu merugikan Anda?!!” [15]

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2]
__________
Foote Note
[1]. HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), dari Shahabat al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albany dalam Irwa-ul Ghaliil, no. 2455.
[2]. HR. An-Nasa-i (III/189) dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang shahih.
[3]. Riwayat al-Laalika-iy dalam Syarah Ushuul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 126), Ibnu Baththah al-‘Ukbary dalam al-Ibaanah (no. 205). Lihat ‘Ilmu Ushulil Bida’ (hal. 92).
[4]. Riwayat Imam asy-Syafi’i dalam kitab ar-Risalah (hal. 87-93 no. 289), tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir rahimahullahu, al-Baihaqi (VII/76). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah (no. 1803).
[5]. Riwayat Muslim (no. 262 (57)), Abu Dawud (no. 7), at-Tirmidzi (no. 16) dan Ibnu Majah (no. 316), dari Salman al-Farisiz.
[6]. HR. Abu Dawud (no. 8) dan lainnya.
[7]. HR. Al-Bukhari (no. 6604), Muslim (no. 2891 (23)), Abu Dawud (no. 4240) dan al-Hakim (IV/487), lafazh ini milik Muslim dari Shahabat Hudzaifah z.
[8]. HR. Muslim (no. 2892), al-Hakim (IV/487) dan Ahmad (V/341) dari Shahabat ‘Amr bin Akhthab Radhiyallahu ‘anhu
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 3192) secara mu’allaq, dengan lafazh jazm (bersifat pasti).
[10]. Riwayat Ahmad (IV/254) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XX/441 no. 1077) dan pada sanad hadits ini terdapat periwayat yang lemah, ‘Amr bin Ibrahim bin Muhammad, akan tetapi hadits ini memiliki beberapa penguat, yaitu hadits-hadits yang sebelumnya, sehingga derajat hadits ini naik menjadi hasan. Lihat Majma’uz Zawaa-id (VIII/264).
[11]. HR. Muslim (no. 404 (62)), Abu Dawud (no. 972), an-Nasa-i (II/241), Ibnu Majah (no. 901), Ahmad (IV/401, 405) dan al-Baihaqi (II/140-141), dari Shahabat Abu Musa al-‘Asy’ari z.
[12]. HR. Muslim (no. 2865 (63)) dan Ahmad (IV/162, 266 ).
[13]. Beliau adalah gurunya Imam asy-Syafi’i, dan wafat tahun 179 H.
[14]. Al-I’tisham (I/ 64-65) tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly cet. I, th. 1412 H, Daar Ibni Affan
[15]. Al-Ibdaa’ fii Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’ (hal. 23) oleh Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah


ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA




Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
HADITS-HADITS TENTANG KESEMPURNAAN ISLAM

Hadits Pertama:
Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian” [1]

Hadits Kedua:
Dari Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor burung pun yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan kami memiliki ilmunya”[2]

Perkataan Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu di atas diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (Musnad Imam Ahmad V/153, 162). Kemudian ada syahidnya dari perkataan Abud Darda’Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir sebagaimana dikatakan Imam al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaa’id (VIII/264).

Hadits Ketiga:
Dari Abud Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor burung yang terbang di langit melainkan beliau telah menerangkan kepada kami ilmunya”[3]

Hadits Keempat:
Dari Muththalib bin Hanthab, seorang Tabi’in terpercaya, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari perintah-perintah Allah kepada kalian, melainkan telah aku perintahkan kepada kalian. Begitu pula tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari larangan-larangan Allah kepada kalian melainkan telah aku larang kalian darinya.”[4]

Hadits Kelima:
Dari Salman Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman Radhiyallahu ‘anhu menjawab, ‘Ya!’”[5]

Hadits Keenam:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya kedudukanku terhadap kalian seperti kedudukan seorang ayah, aku mengajari kalian semua….’”[6]

Hadits Ketujuh:
Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami (berkhutbah), tidaklah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan sesuatu pun juga di tempatnya itu (tentang peristiwa-peristiwa) yang akan terjadi sampai hari Kiamat melainkan beliau menceritakannya kepada kami. Akan hafal orang yang hafal dan akan lupa orang yang lupa...”[7]

Hadits Kedelapan:
Dari Abu Zaid (yaitu ‘Amr bin Akhthab Radhiyallahu ‘anhu), “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Shubuh berjama’ah (mengimami) kami, lalu (setelah shalat) beliau naik ke mimbar dan berkhutbah kepada kami sampai tiba waktu shalat Zhuhur. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar dan shalat berjama’ah (mengimami) kami. (Setelah shalat) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik (lagi) ke mimbar dan berkhutbah kepada kami sampai tiba waktu shalat ‘Ashar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar dan shalat berjama’ah (mengimami) kami. (Setelah shalat) kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke mimbar lagi dan berkhutbah kepada kami sampai saat matahari terbenam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan kami tentang apa-apa saja yang sudah terjadi dan yang akan terjadi. (Abu Zaid) berkata, ‘Orang yang paling mengetahui adalah orang yang paling hafal di antara kami”[8]

Hadits Kesembilan:
Umar Radhiyallhu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaijhi wa sallam pernah berdiri (khutbah) di hadapan kami, lalu menceritakan kepada kami tentang awal penciptaan makhluk sampai penghuni Surga memasuki tempatnya dan penghuni Neraka memasuki tempatnya. Telah hafal orang yang menghafalnya dan telah lupa orang yang melupakannya”[9]

Hadits Kesepuluh:
Dari Mughirahzbahwa dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di antara kami pada suatu tempat, kemudian menceritakan tentang apa yang terjadi pada umatnya sampai hari Kiamat. Telah hafal orang yang meng-hafalnya dan telah lupa orang yang melupakannya.”[10]

Hadits Kesebelas:
Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami, menjelaskan sunnah-sunnah kepada kami dan mengajarkan (cara) shalat kepada kami.” (Dalam suatu hadits yang panjang).[11]

Hadits Kedua belas:
Dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’iy Radhiyallahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda pada suatu hari dalam khutbahnya, ‘Ketahuilah sesungguhnya Rabb-ku telah menyuruhku untuk mengajarkan kalian hal-hal yang kalian tidak mengetahuinya, dari apa-apa yang Dia telah mengajarkannya kepadaku hari ini ....” [12]

Imam Malik bin Anas [13] rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah dalam Islam yang ia pandang hal itu baik (bid’ah hasanah), maka sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah agama ini. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah berfirman: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama-mu untukmu...” [Al-Maa-idah:[3]. (Imam Malik rahimahullah selanjutnya berkata), “Maka sesuatu yang pada hari itu bukanlah ajaran agama, maka hari ini pun sesuatu itu bukanlah ajaran agama”[14]

Risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang secara sempurna untuk seluruh umat manusia dan segenap bangsa jin, orang-orang Arab dan non Arab, cocok untuk setiap tempat dan waktu, setiap generasi dan kondisi. Tidak ada suatu kebaikan melainkan telah ditunjukkan oleh Islam dan tidak ada keburukan melainkan telah diperingatkan oleh Islam. Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu agama dari siapa pun selain agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Saya berpesan kepada mereka yang terjerat dalam perbuatan bid’ah, yang mungkin ia mempunyai tujuan baik dan menghendaki kebaikan. Apabila Anda memang menghendaki kebaikan, maka demi Allah, tidak ada jalan yang terbaik melainkan jalan yang telah ditempuh oleh Salafush Shalih.

Wahai saudara-saudaraku, berpegang teguhlah kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ikutilah jejak Salafush Shalih dan laksanakanlah apa yang mereka amalkan dan perhatikanlah apakah hal itu merugikan Anda?!!” [15]

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2]
__________
Foote Note
[1]. HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), dari Shahabat al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albany dalam Irwa-ul Ghaliil, no. 2455.
[2]. HR. An-Nasa-i (III/189) dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang shahih.
[3]. Riwayat al-Laalika-iy dalam Syarah Ushuul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 126), Ibnu Baththah al-‘Ukbary dalam al-Ibaanah (no. 205). Lihat ‘Ilmu Ushulil Bida’ (hal. 92).
[4]. Riwayat Imam asy-Syafi’i dalam kitab ar-Risalah (hal. 87-93 no. 289), tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir rahimahullahu, al-Baihaqi (VII/76). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah (no. 1803).
[5]. Riwayat Muslim (no. 262 (57)), Abu Dawud (no. 7), at-Tirmidzi (no. 16) dan Ibnu Majah (no. 316), dari Salman al-Farisiz.
[6]. HR. Abu Dawud (no. 8) dan lainnya.
[7]. HR. Al-Bukhari (no. 6604), Muslim (no. 2891 (23)), Abu Dawud (no. 4240) dan al-Hakim (IV/487), lafazh ini milik Muslim dari Shahabat Hudzaifah z.
[8]. HR. Muslim (no. 2892), al-Hakim (IV/487) dan Ahmad (V/341) dari Shahabat ‘Amr bin Akhthab Radhiyallahu ‘anhu
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 3192) secara mu’allaq, dengan lafazh jazm (bersifat pasti).
[10]. Riwayat Ahmad (IV/254) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XX/441 no. 1077) dan pada sanad hadits ini terdapat periwayat yang lemah, ‘Amr bin Ibrahim bin Muhammad, akan tetapi hadits ini memiliki beberapa penguat, yaitu hadits-hadits yang sebelumnya, sehingga derajat hadits ini naik menjadi hasan. Lihat Majma’uz Zawaa-id (VIII/264).
[11]. HR. Muslim (no. 404 (62)), Abu Dawud (no. 972), an-Nasa-i (II/241), Ibnu Majah (no. 901), Ahmad (IV/401, 405) dan al-Baihaqi (II/140-141), dari Shahabat Abu Musa al-‘Asy’ari z.
[12]. HR. Muslim (no. 2865 (63)) dan Ahmad (IV/162, 266 ).
[13]. Beliau adalah gurunya Imam asy-Syafi’i, dan wafat tahun 179 H.
[14]. Al-I’tisham (I/ 64-65) tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly cet. I, th. 1412 H, Daar Ibni Affan
[15]. Al-Ibdaa’ fii Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’ (hal. 23) oleh Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah Read More..

22 Des 2008

Kebangkitan Islam atau Kebangkrutan Islam


Kebangkitan Islam atau Kebangkrutan Islam

Menurut Azyumardi Azra, “Kebangkitan Islam'' ditandai dengan toleransi dan gagasan pluralisme. Islam gaya Timur Tengah justru 'ancaman Islam'. Sikap “cari muka” terhadap Barat?. Baca CAP Adian Husaini ke 80 Pada tanggal 2 Desember 2004, Prof. Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menulis satu di kolom Resonansi, di Harian Republika, berjudul “Memahami Kebangkitan Islam.” Kolom ini perlu kita cermati karena memuat banyak hal yang perlu diklarifikasi. Sejumlah istilah yang digunakan Azyumardi memiliki makna yang rancu dan menunjukkan kuatnya hegemoni Barat dalam kajian tentang Islam, umat Islam, dan dunia Islam. Sehingga, ilmuwan sekaliber Prof. Azyumardi Azra (AA) harus “menelan mentah-mentah” istilah dan sekaligus wacana yang dijejalkan oleh Barat ke dunia Islam. Karena itu, muncul paradoks, bahwa sesuatu yang mestinya diprihatinkan, justru dibangga-banggakan.

Tulisan AA diawali dengan cerita, bahwa pada Hari Selasa (30/11/2004) ia didatangi setidaknya oleh tiga kalangan pejabat tinggi dari negara-negara Barat. Seperti banyak tamu lainnya, mereka mengajak AA berdiskusi sejak dari perkembangan dan dinamika Islam, politik Indonesia pascapilpres dan terbentuknya pemerintah baru, sampai pada kemungkinan keterlibatan NGO dalam persidangan CGI yang akan datang di Jakarta. Berikut ini kutipan tulisan AA lebih lengkapnya:

Seperti biasa juga, pertanyaan-pertanyaan paling rinci dari mereka adalah tentang dinamika Islam, baik dalam bidang politik maupun sosial-keagamaan. Misalnya saja, apakah pemerintahan Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla mampu bersikap lebih tegas terhadap kelompok-kelompok radikal; atau, pada segi lain, bisa mendapat tekanan-tekanan tertentu dari kekuatan-kekuatan politik Islam mainstream yang, pada gilirannya, dapat mengubah lanskap politik di negeri ini.

Tentu saja sangat sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, yang sering didasari kerangka hipotetis belaka daripada gejala aktual yang terjadi. Pada segi sosial keagamaan, pertanyaan yang mereka ajukan, juga masih seperti dulu; apakah gejala ''kebangkitan Islam'' yang berlangsung dalam satu atau dua dasawarsa terakhir ini akan mengubah lanskap sosial-keagamaan dan politik di Indonesia. Apa yang mereka sebut sebagai ''kebangkitan Islam'' adalah meningkatnya pemakaian jilbab di kalangan wanita, adanya suara-suara dan aspirasi di kalangan Muslim untuk penegakan ''syariah'', dan bertahannya lembaga-lembaga pendidikan Islam, khususnya madrasah dan pesantren. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini juga tidak mudah. Tetapi, biasanya saya menjawab, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan semua gejala yang disebut sebagai ''Islamic revival'' tersebut. Memang, semakin banyak Muslim yang kian rajin beribadah, dan juga semakin banyak wanita yang menggunakan jilbab. Tetapi, parpol-parpol Islam tetap gagal meraih suara terbanyak dalam pemilu. Jadi, peningkatan kesalehan keagamaan tidak merupakan garis lurus.

Karena itulah pendapat Giora Eliraz, guru besar Hebrew University Yerusalem dan dosen tamu pada Australian National University, dalam buku yang baru saja beredar dan selesai saya baca, Islam in Indonesia: Modernism, Radicalism, and the Middle East Dimension (Brighton: Sussex Academic Press, 2004) menjadi sangat menarik. Menurut Eliraz, watak kebangkitan Islam di Indonesia adalah unik, terutama jika dibandingkan dengan Islam di Timur Tengah. Jika di Timur Tengah umumnya ''kebangkitan Islam'' itu ditandai dengan peningkatan kesalehan dan konservatisme berbarengan dengan penguatan Islam politik dengan ideologi fundamentalis dan bahkan militansi dan radikalisme-- maka ''kebangkitan Islam'' di Indonesia ditandai dengan peningkatan toleransi dan penerimaan yang kian meluas atas gagasan-gagasan dasar tentang pluralisme keagamaan.”

Demikian kutipan tulisan AA dalam Harian Republika tersebut.

Dari tulisan itu, kita bisa menangkap cerita faktual, bahwa mitos tentang “ancaman Islam” (Islamic Threat) di kalangan pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh Kristen-Yahudi masih hidup subur. Meskipun negara-negara Barat saat ini memiliki kekuatan yang dahsyat dalam berbagai bidang kehidupan – politik, ekonomi, militer, informasi, pemikiran, pendidikan, dan sebagainya – ternyata mental “ketakutan” itu masih saja hidup subur. Akar-akar ketakutan terhadap Islam memang sangat mendalam di Barat. Edward Gibbon, misalnya, dalam buku terkenalnya, The Decline and Fall of The Roman Empire, (New York: The Modern Library, 1974, III:56) membuat mitos populer tentang ancaman Islam, bahwa Nabi Muhammad – dengan masing-masing tangannya memegang al-Quran dan pedang mendirikan kekuasaannya di atas reruntuhan Kristen. (Mohammed, with the sword in one hand and the Koran in the other, erected his throne on the ruins of Christianity and of Rome).

Buku John L. Esposito, The Islamic Threat, Myth or Reality, (New York: Oxford University Press, 1993), menggambarkan fenomena ketakutan itu di kalangan masyarakat Barat. Dalam sejarahnya yang panjang, mitos tentang ancaman Islam di kalangan masyarakat Kristen juga sudah digambarkan dengan baik oleh Norman Daniel, Islam and The West: The Making of an Image, (Oxford:Oneworld Publications, 1997). David R. Blank, dalam sebuah tulisannya berjudul “Western Views of Islam in the Premodern Period” mencatat bahwa meskipun secara keseluruhan tidak ada bukti kuat antara sikap “prejudis” terhadap Islam antara zaman pra-modern dengan zaman modern, namun ada garis-garis pemikiran tertentu yang terus berlanjut, yang mencitrakan Islam sebagai “kafir raksasa” (gigantic heresy), seperti garis pemikiran Peter the Vunerable – Raymund Lull-Martin Luther—Samuel Zwemmer.

Zwemmer adalah misionaris Kristen terkenal. Martin Luther, sebagaimana banyak pendeta Kristen di zaman itu, percaya bahwa kaum Muslim (yang disebut dengan istilah “Turks”) adalah masyarakat yang dikutuk oleh Tuhan (The Turks are the people of the wrath of God).

Kita masih ingat, bahwa Paus Urbanus II, ketika memprovokasi Perang Salib juga menyatakan, bahwa kaum Muslim adalah monster jahat yang tidak bertuhan. Membunuh makhluk semacam itu merupakan tindakan suci dan kewajiban kaum Kristen. (Killing these godless monsters was a holy act).

Di masa lalu, ketakutan terhadap kekuatan Islam memang beralasan, sebab memang hanya peradaban Islam yang mampu menaklukkan Kristen Eropa selama ratusan tahun. Tetapi, sekarang? Jelas-jelas kaum Muslim terpecah belah, dan terus-menerus dalam kondisi dilemahkan. Namun, toh, orang-orang Barat, seperti yang datang ke AA itu, tetap saja melihat Islam sebagai “momok”. Bagaimana menghadapi kaum yang “hidup dalam mitos” atau “paranoid” semacam ini?

Pada satu sisi, ketakutan Barat itu menunjukkan, bahwa memang Islam – bagaimana pun kondisinya – tidak dipandang sebelah mata. Kaum Muslim tetap diperhitungkan. Seyogyanya, kaum Muslim melakukan instrospeksi atas kondisinya dan tidak terlalu menunjukkan sikap “cari muka” terhadap Barat.

Dalam beberapa aspek, nuansa “cari muka” itu tampak pada tulisan AA. Misalnya, karena begitu takutnya Barat pada “Islam politik”, maka banyak cendekiawan yang ikut-ikutan membenci Islam politik. Menurut mereka, Islam harus dijauhkan dari kekuasaan. Penguasa kolonial Belanda dulu -- atas nasehat Snouck Hurgronje – membagi masalah Islam ke dalam tiga ketegori: (1) bidang agama murni dan ibadah, (2) bidang sosial kemasyarakatan, (3) bidang politik. Masing-masing bidang mendapat perlakuan yang berbeda. Resep Snouck Hurgronje inilah yang dikenal sebagai “Islam Politiek”, atau kebijakan pemerintah kolonial untuk menangani masalah Islam di Indonesia.

Dalam bidang agama murni atau ibadah, pemerintah kolonial pada dasarnya memberikan kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda. Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku dengan cara menggalakkan rakyat agar mendekati Belanda, dan bahkan membantu rakyat menempuh jalan tersebut. Dan dalam bidang politik, pemerintah harus mencegah setiap usaha yang akan membawa rakyat kepada fanatisme dan Pan-Islam.

Jawaban AA terhadap orang-orang Barat, “Tetapi, biasanya saya menjawab, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan semua gejala yang disebut sebagai ''Islamic revival'' tersebut. Memang, semakin banyak Muslim yang kian rajin beribadah, dan juga semakin banyak wanita yang menggunakan jilbab. Tetapi, parpol-parpol Islam tetap gagal meraih suara terbanyak dalam pemilu. Jadi, peningkatan kesalehan keagamaan tidak merupakan garis lurus.”

Cara pandang seperti itu sebenarnya aneh, untuk seorang ilmuwan yang sering berbicara tentang demokrasi seperti AA. Seolah-olah kekalahan parpol Islam atas Golkar dan PDIP patut disyukuri demi untuk menghibur dan menyenangkan hati (cari muka) terhadap Barat. Lebih aneh lagi, jika kita telaah pandangan AA terhadap sebuah buku yang ditulis Giora Eliraz, guru besar Hebrew University Yerusalem dan dosen tamu pada Australian National University. Buku itu berjudul “Islam in Indonesia: Modernism, Radicalism, and the Middle East Dimension (Brighton: Sussex Academic Press, 2004).”

Menurut Eliraz, watak kebangkitan Islam di Indonesia adalah unik, terutama jika dibandingkan dengan Islam di Timur Tengah. Jika di Timur Tengah umumnya ''kebangkitan Islam'' itu ditandai dengan peningkatan kesalehan dan konservatisme berbarengan dengan penguatan Islam politik dengan ideologi fundamentalis dan bahkan militansi dan radikalisme-- maka ''kebangkitan Islam'' di Indonesia ditandai dengan peningkatan toleransi dan penerimaan yang kian meluas atas gagasan-gagasan dasar tentang pluralisme keagamaan.

Jika dicermati, pendapat ilmuwan dari Hebrew University yang dipuji oleh AA itu mengandung sejumlah kerancuan ilmiah dan “racun pembunuh” pemikiran. Dengan bahasa yang halus, umat Islam di Indonesia dipuji-puji, lebih hebat, lebih bagus, dan lebih menyenangkan Barat, karena tidak “radikal”, tidak “militan”, tidak “fundamentalis”. Tanpa sadar, dengan ungkapan semacam itu, sebenarnya kita telah dipecah belah, masuk dalam “politik belah bambu”, satu diinjak, satu diangkat. Dengan bahasa yang sederhana, menurut ilmuwan dari Israel itu, kebangkitan Islam di Timur Tengah jelek dan jahat, berbeda dengan kebangkitan Islam di Indonesia. Dengan memberikan stigma negatif terhadap wajah Islam “Timur Tengah” semacam itu, dampak berikutnya adalah munculnya sikap negatif terhadap saudara-saudara kita Muslim di Timur Tengah, sehingga memudahkan untuk memindahkan kiblat pemikiran Islam ke Barat.

Deskripsi ilmuwan dari Israel itu juga memberi gambaran yang mengerikan tentang “Islam politik”, seperti Snouck Hurgronje dulu. Ironisnya, ketakutan semacam ini disebarluaskan oleh sebagian ilmuwan di kalangan Muslim. Hal lain yang ditelan mentah-mentah oleh AA adalah istilah dan wacana tentang “fundamentalisme” dan “radikalisme” yang juga tidak lepas dari agenda Barat dalam mencitrakan Islam sebagai “momok” dan musuh baru pasca Perang Dingin. Buku-buku tentang masalah ini sangat melimpah ruah, bagaimana wacana ini terus digulirkan untuk mengacaukan persepsi kaum Muslim dan dunia internasional. Apalagi ketika wacana fundamentalisme, radikalisme, militan, dikaitkan dengan terorisme.

Kita patut mencermati ungkapan ilmuwan dari Israel tentang kebangkitan Islam di Indonesia yang juga dipuji oleh AA. Bahwa ''kebangkitan Islam'' di Indonesia ditandai dengan peningkatan toleransi dan penerimaan yang kian meluas atas gagasan-gagasan dasar tentang pluralisme keagamaan.”

Pendapat inilah yang sebenarnya merupakan “racun pembunuh”. Sebab, kebangkitan Islam dikaitkan dengan penyebaran paham “pluralisme agama” yang memang merupakan mesin pembunuh agama-agama, sebagaimana kita bahas beberapa kali dalam catatan ini. AA tidak membedakan antara pluralitas, yang mengakui keragaman, dengan pluralisme agama, yang merupakan paham tentang realitas. Paham pluralisme agama berupaya membentuk satu ‘teologi baru’ yang berbeda dengan teologi agama-agama yang ada. Biasanya mereka sebut semacam ‘universal theology of religion’. Karena itu tidak berlebihan jika dikatakan, pluralisme agama sebenarnya merupakan ‘jenis agama baru’, yang menciptakan ‘kitab suci’ dan ‘nabi’-nya sendiri.

Tokoh paham ini adalah pendiri Islamic Studies di McGill University, Wilfred Cantwell Smith. Ia mengaku dirinya merupakan pendukung gagasan “a universal theology of religion”. Satu lagi, tokoh paham ini adalah John Hick. Jika ditelaah, perjalanan intelektual John Hick, akan tampak ia sampai pada paham ini setelah melakukan penghancuran secara mendasar terhadap teologi Kristen. John Hick, seorang profesor teologi Kristen, melakukan pembongkaran terhadap konsep dasar teologi Kristen melalui bukunya “The Myth of God Incarnate” (1977). Buku ini memuat tiga tema utama: (1) Yesus tidak pernah mengajarkan bahwa dia adalah ‘inkarnasi Tuhan’. (2) Adalah mustahil melacak perkembangan doktrin inkarnasi dalam Bible yang yang sebenarnya dirumuskan dalam Konsili Nicea dan Chalcedon. (3) Bahasa yang digunakan Bible dalam soal ‘inkarnasi ketuhanan’ adalah bersifat metaforis, bukan literal. Buku Hick memunculkan kehebohan besar di kalangan kaum Kristen Berminggu-minggu media massa keagamaan mendikusikan masalah ini. Hick memang melakukan kritik tajam terhadap doktrin trinitas. Ia menyatakan, bahwa doktrin Trinitas bukanlah bagian dari ajaran Yesus tentang Tuhan. Yesus sendiri, katanya, mengajarkan Tuhan dalam persepsi monoteistik Yahudi ketika itu. (Lihat, Adnan Aslan, Religious Pluralism in Christian and Islamic Philosophy: The Thought of John Hick and Seyyed Hossein Nasr, (Richmond Surrey: Curzon Press, 1998).

Paham “Pluralisme Agama” adalah produk sejarah perjalanan peradaban Barat yang traumatik terhadap “teologi eksklusif Gereja”, problema teologis Kristen, dan realitas teks Bible. Seyogyanya adopsi paham ini ke dalam Islam perlu dikaji dengan mendalam dan dibandingkan dengan cermat dengan sejarah, tradisi, konsep teologis Islam, dan realitas teks al-Quran. Masing-masing peradaban memiliki pandangan hidup (worldview) yang khas. Disamping WC Smith dan John Hick, sejarah perjalanan Kristen Barat juga telah melahirkan seorang filosof terkenal bernama Bertrand Russell yang menulis sebuah buku “Why I am not A Christian” (Mengapa Saya bukan Seorang kristen?) Ia menjelaskan dua hal: mengapa dia tidak percaya kepada Tuhan dan kepada keabadian (immortality). Kedua, mengapa dia tidak memandang bahwa Christ (Kristus) adalah manusia terbaik dan paling bijaksana. Bahkan Russell juga menjelaskan mengapa ia keluar dari Kristen, dengan menyatakan, bahwa agama Kristen, sebagaimana yang diatur dalam Gereja-gerejanya, merupakan musuh mendasar dari kemajuan moral di dunia. (I say quite deliberately that the Christian Religion, as organized in its Churches, has been and still is the principal enemy of moral progress in the world).

Karena itu, adalah sangat memprihatinkan, jika penyebaran paham “pluralisme agama” dikatakan sebagai “kebangkitan Islam”, sebagaimana dikatakan Prof. Giora Eliraz, ilmuwan dari Israel tersebut. Lebih ajaib lagi, ada ilmuwan Muslim yang menelan begitu saja pendapat itu. Penyebaran paham pluralisme agama di kalangan kaum Muslim sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai satu “kebangkitan Islam”, tetapi justru “kebangkrutan Islam”. Wallahu a’lam. (KL, 2 Desember 2004).


Kebangkitan Islam atau Kebangkrutan Islam

Menurut Azyumardi Azra, “Kebangkitan Islam'' ditandai dengan toleransi dan gagasan pluralisme. Islam gaya Timur Tengah justru 'ancaman Islam'. Sikap “cari muka” terhadap Barat?. Baca CAP Adian Husaini ke 80 Pada tanggal 2 Desember 2004, Prof. Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menulis satu di kolom Resonansi, di Harian Republika, berjudul “Memahami Kebangkitan Islam.” Kolom ini perlu kita cermati karena memuat banyak hal yang perlu diklarifikasi. Sejumlah istilah yang digunakan Azyumardi memiliki makna yang rancu dan menunjukkan kuatnya hegemoni Barat dalam kajian tentang Islam, umat Islam, dan dunia Islam. Sehingga, ilmuwan sekaliber Prof. Azyumardi Azra (AA) harus “menelan mentah-mentah” istilah dan sekaligus wacana yang dijejalkan oleh Barat ke dunia Islam. Karena itu, muncul paradoks, bahwa sesuatu yang mestinya diprihatinkan, justru dibangga-banggakan.

Tulisan AA diawali dengan cerita, bahwa pada Hari Selasa (30/11/2004) ia didatangi setidaknya oleh tiga kalangan pejabat tinggi dari negara-negara Barat. Seperti banyak tamu lainnya, mereka mengajak AA berdiskusi sejak dari perkembangan dan dinamika Islam, politik Indonesia pascapilpres dan terbentuknya pemerintah baru, sampai pada kemungkinan keterlibatan NGO dalam persidangan CGI yang akan datang di Jakarta. Berikut ini kutipan tulisan AA lebih lengkapnya:

Seperti biasa juga, pertanyaan-pertanyaan paling rinci dari mereka adalah tentang dinamika Islam, baik dalam bidang politik maupun sosial-keagamaan. Misalnya saja, apakah pemerintahan Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla mampu bersikap lebih tegas terhadap kelompok-kelompok radikal; atau, pada segi lain, bisa mendapat tekanan-tekanan tertentu dari kekuatan-kekuatan politik Islam mainstream yang, pada gilirannya, dapat mengubah lanskap politik di negeri ini.

Tentu saja sangat sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, yang sering didasari kerangka hipotetis belaka daripada gejala aktual yang terjadi. Pada segi sosial keagamaan, pertanyaan yang mereka ajukan, juga masih seperti dulu; apakah gejala ''kebangkitan Islam'' yang berlangsung dalam satu atau dua dasawarsa terakhir ini akan mengubah lanskap sosial-keagamaan dan politik di Indonesia. Apa yang mereka sebut sebagai ''kebangkitan Islam'' adalah meningkatnya pemakaian jilbab di kalangan wanita, adanya suara-suara dan aspirasi di kalangan Muslim untuk penegakan ''syariah'', dan bertahannya lembaga-lembaga pendidikan Islam, khususnya madrasah dan pesantren. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini juga tidak mudah. Tetapi, biasanya saya menjawab, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan semua gejala yang disebut sebagai ''Islamic revival'' tersebut. Memang, semakin banyak Muslim yang kian rajin beribadah, dan juga semakin banyak wanita yang menggunakan jilbab. Tetapi, parpol-parpol Islam tetap gagal meraih suara terbanyak dalam pemilu. Jadi, peningkatan kesalehan keagamaan tidak merupakan garis lurus.

Karena itulah pendapat Giora Eliraz, guru besar Hebrew University Yerusalem dan dosen tamu pada Australian National University, dalam buku yang baru saja beredar dan selesai saya baca, Islam in Indonesia: Modernism, Radicalism, and the Middle East Dimension (Brighton: Sussex Academic Press, 2004) menjadi sangat menarik. Menurut Eliraz, watak kebangkitan Islam di Indonesia adalah unik, terutama jika dibandingkan dengan Islam di Timur Tengah. Jika di Timur Tengah umumnya ''kebangkitan Islam'' itu ditandai dengan peningkatan kesalehan dan konservatisme berbarengan dengan penguatan Islam politik dengan ideologi fundamentalis dan bahkan militansi dan radikalisme-- maka ''kebangkitan Islam'' di Indonesia ditandai dengan peningkatan toleransi dan penerimaan yang kian meluas atas gagasan-gagasan dasar tentang pluralisme keagamaan.”

Demikian kutipan tulisan AA dalam Harian Republika tersebut.

Dari tulisan itu, kita bisa menangkap cerita faktual, bahwa mitos tentang “ancaman Islam” (Islamic Threat) di kalangan pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh Kristen-Yahudi masih hidup subur. Meskipun negara-negara Barat saat ini memiliki kekuatan yang dahsyat dalam berbagai bidang kehidupan – politik, ekonomi, militer, informasi, pemikiran, pendidikan, dan sebagainya – ternyata mental “ketakutan” itu masih saja hidup subur. Akar-akar ketakutan terhadap Islam memang sangat mendalam di Barat. Edward Gibbon, misalnya, dalam buku terkenalnya, The Decline and Fall of The Roman Empire, (New York: The Modern Library, 1974, III:56) membuat mitos populer tentang ancaman Islam, bahwa Nabi Muhammad – dengan masing-masing tangannya memegang al-Quran dan pedang mendirikan kekuasaannya di atas reruntuhan Kristen. (Mohammed, with the sword in one hand and the Koran in the other, erected his throne on the ruins of Christianity and of Rome).

Buku John L. Esposito, The Islamic Threat, Myth or Reality, (New York: Oxford University Press, 1993), menggambarkan fenomena ketakutan itu di kalangan masyarakat Barat. Dalam sejarahnya yang panjang, mitos tentang ancaman Islam di kalangan masyarakat Kristen juga sudah digambarkan dengan baik oleh Norman Daniel, Islam and The West: The Making of an Image, (Oxford:Oneworld Publications, 1997). David R. Blank, dalam sebuah tulisannya berjudul “Western Views of Islam in the Premodern Period” mencatat bahwa meskipun secara keseluruhan tidak ada bukti kuat antara sikap “prejudis” terhadap Islam antara zaman pra-modern dengan zaman modern, namun ada garis-garis pemikiran tertentu yang terus berlanjut, yang mencitrakan Islam sebagai “kafir raksasa” (gigantic heresy), seperti garis pemikiran Peter the Vunerable – Raymund Lull-Martin Luther—Samuel Zwemmer.

Zwemmer adalah misionaris Kristen terkenal. Martin Luther, sebagaimana banyak pendeta Kristen di zaman itu, percaya bahwa kaum Muslim (yang disebut dengan istilah “Turks”) adalah masyarakat yang dikutuk oleh Tuhan (The Turks are the people of the wrath of God).

Kita masih ingat, bahwa Paus Urbanus II, ketika memprovokasi Perang Salib juga menyatakan, bahwa kaum Muslim adalah monster jahat yang tidak bertuhan. Membunuh makhluk semacam itu merupakan tindakan suci dan kewajiban kaum Kristen. (Killing these godless monsters was a holy act).

Di masa lalu, ketakutan terhadap kekuatan Islam memang beralasan, sebab memang hanya peradaban Islam yang mampu menaklukkan Kristen Eropa selama ratusan tahun. Tetapi, sekarang? Jelas-jelas kaum Muslim terpecah belah, dan terus-menerus dalam kondisi dilemahkan. Namun, toh, orang-orang Barat, seperti yang datang ke AA itu, tetap saja melihat Islam sebagai “momok”. Bagaimana menghadapi kaum yang “hidup dalam mitos” atau “paranoid” semacam ini?

Pada satu sisi, ketakutan Barat itu menunjukkan, bahwa memang Islam – bagaimana pun kondisinya – tidak dipandang sebelah mata. Kaum Muslim tetap diperhitungkan. Seyogyanya, kaum Muslim melakukan instrospeksi atas kondisinya dan tidak terlalu menunjukkan sikap “cari muka” terhadap Barat.

Dalam beberapa aspek, nuansa “cari muka” itu tampak pada tulisan AA. Misalnya, karena begitu takutnya Barat pada “Islam politik”, maka banyak cendekiawan yang ikut-ikutan membenci Islam politik. Menurut mereka, Islam harus dijauhkan dari kekuasaan. Penguasa kolonial Belanda dulu -- atas nasehat Snouck Hurgronje – membagi masalah Islam ke dalam tiga ketegori: (1) bidang agama murni dan ibadah, (2) bidang sosial kemasyarakatan, (3) bidang politik. Masing-masing bidang mendapat perlakuan yang berbeda. Resep Snouck Hurgronje inilah yang dikenal sebagai “Islam Politiek”, atau kebijakan pemerintah kolonial untuk menangani masalah Islam di Indonesia.

Dalam bidang agama murni atau ibadah, pemerintah kolonial pada dasarnya memberikan kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda. Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku dengan cara menggalakkan rakyat agar mendekati Belanda, dan bahkan membantu rakyat menempuh jalan tersebut. Dan dalam bidang politik, pemerintah harus mencegah setiap usaha yang akan membawa rakyat kepada fanatisme dan Pan-Islam.

Jawaban AA terhadap orang-orang Barat, “Tetapi, biasanya saya menjawab, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan semua gejala yang disebut sebagai ''Islamic revival'' tersebut. Memang, semakin banyak Muslim yang kian rajin beribadah, dan juga semakin banyak wanita yang menggunakan jilbab. Tetapi, parpol-parpol Islam tetap gagal meraih suara terbanyak dalam pemilu. Jadi, peningkatan kesalehan keagamaan tidak merupakan garis lurus.”

Cara pandang seperti itu sebenarnya aneh, untuk seorang ilmuwan yang sering berbicara tentang demokrasi seperti AA. Seolah-olah kekalahan parpol Islam atas Golkar dan PDIP patut disyukuri demi untuk menghibur dan menyenangkan hati (cari muka) terhadap Barat. Lebih aneh lagi, jika kita telaah pandangan AA terhadap sebuah buku yang ditulis Giora Eliraz, guru besar Hebrew University Yerusalem dan dosen tamu pada Australian National University. Buku itu berjudul “Islam in Indonesia: Modernism, Radicalism, and the Middle East Dimension (Brighton: Sussex Academic Press, 2004).”

Menurut Eliraz, watak kebangkitan Islam di Indonesia adalah unik, terutama jika dibandingkan dengan Islam di Timur Tengah. Jika di Timur Tengah umumnya ''kebangkitan Islam'' itu ditandai dengan peningkatan kesalehan dan konservatisme berbarengan dengan penguatan Islam politik dengan ideologi fundamentalis dan bahkan militansi dan radikalisme-- maka ''kebangkitan Islam'' di Indonesia ditandai dengan peningkatan toleransi dan penerimaan yang kian meluas atas gagasan-gagasan dasar tentang pluralisme keagamaan.

Jika dicermati, pendapat ilmuwan dari Hebrew University yang dipuji oleh AA itu mengandung sejumlah kerancuan ilmiah dan “racun pembunuh” pemikiran. Dengan bahasa yang halus, umat Islam di Indonesia dipuji-puji, lebih hebat, lebih bagus, dan lebih menyenangkan Barat, karena tidak “radikal”, tidak “militan”, tidak “fundamentalis”. Tanpa sadar, dengan ungkapan semacam itu, sebenarnya kita telah dipecah belah, masuk dalam “politik belah bambu”, satu diinjak, satu diangkat. Dengan bahasa yang sederhana, menurut ilmuwan dari Israel itu, kebangkitan Islam di Timur Tengah jelek dan jahat, berbeda dengan kebangkitan Islam di Indonesia. Dengan memberikan stigma negatif terhadap wajah Islam “Timur Tengah” semacam itu, dampak berikutnya adalah munculnya sikap negatif terhadap saudara-saudara kita Muslim di Timur Tengah, sehingga memudahkan untuk memindahkan kiblat pemikiran Islam ke Barat.

Deskripsi ilmuwan dari Israel itu juga memberi gambaran yang mengerikan tentang “Islam politik”, seperti Snouck Hurgronje dulu. Ironisnya, ketakutan semacam ini disebarluaskan oleh sebagian ilmuwan di kalangan Muslim. Hal lain yang ditelan mentah-mentah oleh AA adalah istilah dan wacana tentang “fundamentalisme” dan “radikalisme” yang juga tidak lepas dari agenda Barat dalam mencitrakan Islam sebagai “momok” dan musuh baru pasca Perang Dingin. Buku-buku tentang masalah ini sangat melimpah ruah, bagaimana wacana ini terus digulirkan untuk mengacaukan persepsi kaum Muslim dan dunia internasional. Apalagi ketika wacana fundamentalisme, radikalisme, militan, dikaitkan dengan terorisme.

Kita patut mencermati ungkapan ilmuwan dari Israel tentang kebangkitan Islam di Indonesia yang juga dipuji oleh AA. Bahwa ''kebangkitan Islam'' di Indonesia ditandai dengan peningkatan toleransi dan penerimaan yang kian meluas atas gagasan-gagasan dasar tentang pluralisme keagamaan.”

Pendapat inilah yang sebenarnya merupakan “racun pembunuh”. Sebab, kebangkitan Islam dikaitkan dengan penyebaran paham “pluralisme agama” yang memang merupakan mesin pembunuh agama-agama, sebagaimana kita bahas beberapa kali dalam catatan ini. AA tidak membedakan antara pluralitas, yang mengakui keragaman, dengan pluralisme agama, yang merupakan paham tentang realitas. Paham pluralisme agama berupaya membentuk satu ‘teologi baru’ yang berbeda dengan teologi agama-agama yang ada. Biasanya mereka sebut semacam ‘universal theology of religion’. Karena itu tidak berlebihan jika dikatakan, pluralisme agama sebenarnya merupakan ‘jenis agama baru’, yang menciptakan ‘kitab suci’ dan ‘nabi’-nya sendiri.

Tokoh paham ini adalah pendiri Islamic Studies di McGill University, Wilfred Cantwell Smith. Ia mengaku dirinya merupakan pendukung gagasan “a universal theology of religion”. Satu lagi, tokoh paham ini adalah John Hick. Jika ditelaah, perjalanan intelektual John Hick, akan tampak ia sampai pada paham ini setelah melakukan penghancuran secara mendasar terhadap teologi Kristen. John Hick, seorang profesor teologi Kristen, melakukan pembongkaran terhadap konsep dasar teologi Kristen melalui bukunya “The Myth of God Incarnate” (1977). Buku ini memuat tiga tema utama: (1) Yesus tidak pernah mengajarkan bahwa dia adalah ‘inkarnasi Tuhan’. (2) Adalah mustahil melacak perkembangan doktrin inkarnasi dalam Bible yang yang sebenarnya dirumuskan dalam Konsili Nicea dan Chalcedon. (3) Bahasa yang digunakan Bible dalam soal ‘inkarnasi ketuhanan’ adalah bersifat metaforis, bukan literal. Buku Hick memunculkan kehebohan besar di kalangan kaum Kristen Berminggu-minggu media massa keagamaan mendikusikan masalah ini. Hick memang melakukan kritik tajam terhadap doktrin trinitas. Ia menyatakan, bahwa doktrin Trinitas bukanlah bagian dari ajaran Yesus tentang Tuhan. Yesus sendiri, katanya, mengajarkan Tuhan dalam persepsi monoteistik Yahudi ketika itu. (Lihat, Adnan Aslan, Religious Pluralism in Christian and Islamic Philosophy: The Thought of John Hick and Seyyed Hossein Nasr, (Richmond Surrey: Curzon Press, 1998).

Paham “Pluralisme Agama” adalah produk sejarah perjalanan peradaban Barat yang traumatik terhadap “teologi eksklusif Gereja”, problema teologis Kristen, dan realitas teks Bible. Seyogyanya adopsi paham ini ke dalam Islam perlu dikaji dengan mendalam dan dibandingkan dengan cermat dengan sejarah, tradisi, konsep teologis Islam, dan realitas teks al-Quran. Masing-masing peradaban memiliki pandangan hidup (worldview) yang khas. Disamping WC Smith dan John Hick, sejarah perjalanan Kristen Barat juga telah melahirkan seorang filosof terkenal bernama Bertrand Russell yang menulis sebuah buku “Why I am not A Christian” (Mengapa Saya bukan Seorang kristen?) Ia menjelaskan dua hal: mengapa dia tidak percaya kepada Tuhan dan kepada keabadian (immortality). Kedua, mengapa dia tidak memandang bahwa Christ (Kristus) adalah manusia terbaik dan paling bijaksana. Bahkan Russell juga menjelaskan mengapa ia keluar dari Kristen, dengan menyatakan, bahwa agama Kristen, sebagaimana yang diatur dalam Gereja-gerejanya, merupakan musuh mendasar dari kemajuan moral di dunia. (I say quite deliberately that the Christian Religion, as organized in its Churches, has been and still is the principal enemy of moral progress in the world).

Karena itu, adalah sangat memprihatinkan, jika penyebaran paham “pluralisme agama” dikatakan sebagai “kebangkitan Islam”, sebagaimana dikatakan Prof. Giora Eliraz, ilmuwan dari Israel tersebut. Lebih ajaib lagi, ada ilmuwan Muslim yang menelan begitu saja pendapat itu. Penyebaran paham pluralisme agama di kalangan kaum Muslim sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai satu “kebangkitan Islam”, tetapi justru “kebangkrutan Islam”. Wallahu a’lam. (KL, 2 Desember 2004). Read More..

21 Des 2008

Kisah Nabi Khidir Dalam Kitab Imam Ibnu Hajar Asqalaniy

Kisah Nabi Khidir Dalam Kitab Imam Ibnu Hajar Asqalaniy

| Takziah kepada keluarga Rasulullah SAW | Khidir datang menegur peniaga | Kisah Khidir dan Abu Mahjan | | Nabi Khidir memberi pengajaran | Nabi Khidir datang ke Baitul Haram | | Amalan yang paling disukai Allah | Nabi Khidir mengubati dengan Asmaul Husna | Takziah kepada keluarga Rasulullah SAW Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsir: “Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Abdul Aziz Al-Ausiy, dari Ali bin Abu Ali, dari Jakfar bin Muhammad bin Ali bin Husain, dari ayahnya, katanya Ali bin Abi Talib berkata: “Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah ucapan takziah. Datang kepada mereka (keluarga Nabi SAW) orang yang memberi takziah. Mereka mendengar orang memberi takziah tetapi tidak melihat orangnya. Bunyi suara itu begini: ‘Assalamu Alaikum Ahlal Bait Warahmatullahi Wabarakatuh. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanyasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah bagi setiap musibah, bagi Allah ada pengganti setiap ada yang binasa, begitu juga menemukan bagi setiap yang hilang. Kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.” Berkata Jakfar: “Bercerita kepadaku ayahku bahawa Ali bin Abi Talib ada berkata: “Tahukah kamu siapa ini? Ini adalah suara Nabi Khidir.” Berkata Muhammad bin Jakfar: “Adalah ayahku, iaitu Jakfar bin Muhammad, menyebutkan tentang riwayat dari ayahnya, dari datuknya, dari Ali bin Abi Talib bahawa datang ke rumahnya satu rombongan kaum Quraisy kemudian dia berkata kepada mereka: “Mahukah kamu aku ceritakan kepada kamu tentang Abul Qasim (Muhammad SAW)?” Kaum Quraisy itu menjawab: “Tentu sahaja mahu.” Ali bin Abi Talib berkata: “Jibril Alaihis salam pernah berkata kepada Rasulullah SAW: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahmad. Inilah akhir watanku (negeriku) di bumi. Sesungguhnya hanya engkaulah hajatku di dunia.” Maka tatkala Rasulullah SAW wafat, datanglah orang yang memberi takziah, mereka mendengarnya tetapi tidak melihat orangnya. Orang yang memberi takziah itu berkata: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai ahli bait. Sesungguhnya pada agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan bagi Allah ada yang menggantikan setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi

musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.” Mendengar yang demikian Ali bin Abi Talib berkata: “Tahukah kamu siapa yang datang itu? Itu adalah Khidir.” Berkata Saif bin Amr At-Tamimi dalam kitabnya Ar-Riddah, yang diterimanya dari Sa’id bin Abdullah, dari Ibnu Umar mengatakan: “Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah Abu Bakar ke rumah Rasulullah. Ketika beliau melihat jenazah Rasulullah SAW, beliau berkata: “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.” Kemudian beliau bersama sahabat-sahabat yang lain menyembahyangkan jenazah Rasulullah SAW. Pada waktu mereka menyembahyangkan jenazah Rasulullah SAW, mereka mendengar suara ajaib. Selesai solat dan mereka pun semuanya sudah diam, mereka mendengar suara orang di pintu mengatakan: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahli Bait. Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Hanyasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya pada agama Allah ada pengganti setiap ada yang binasa dan ada kelepasan dari segala yang menakutkan. Kepada Allah-lah kamu mengharap dan dengan-Nya berpegang. Orang yang diberi musibah akan diberi ganjaran. Dengarlah itu dan hentikan kamu menangis itu." Mereka melihat ke arah suara itu tetapi tidak melihat orangnya. Kerana sedihnya mereka menangis lagi. Tiba-tiba terdengar lagi suara yang lain mengatakan: “Wahai Ahli Bait, ingatlah kepada Allah dan pujilah Dia dalam segala hal, maka jadilah kamu golongan orang mukhlisin. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan ada pengganti setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya taat. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah orang yang diberi pahala.” Mendengar yang demikian itu berkata Abu Bakar: “Ini adalah Khidir dan Ilyas. Mereka datang atas kematian Rasulullah SAW.” Berkata Ibnu Abu Dunia, yang didengarnya dari Kamil bin Talhah, dari Ubad bin Abdul Samad, dari Anas bin Malik, mengatakan: “Sewaktu Rasulullah SAW meninggal dunia, berkumpullah sahabat-sahabat beliau di sekeliling jenazahnya menangisi kematian beliau. Tiba-tiba datang kepada mereka seorang lelaki yang bertubuh tinggi memakai kain panjang. Dia datang dari pintu dalam keadaan menangis. Lelaki itu menghadap kepada sahabat-sahabat dan berkata: “Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, ada pengganti setiap ada yang hilang. Bersabarlah kamu kerana sesungguhnya orang yang diberi musibah itu akan diberi ganjaran.” Kemudian lelaki itu pun menghilang daripada pandangan para sahabat. Abu Bakar berkata: “Datang ke sini lelaki yang memberi takziah.” Mereka memandang ke kiri dan kanan tetapi lelaki itu tidak nampak lagi. Abu Bakar berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir, saudara nabi kita. Beliau datang memberi takziah atas kematian Rasulullah SAW.” Dari tadi sudah banyak kita lihat ucapan-ucapan takziah yang hampir sama kata-katanya. Ada yang mengatakan hadis ini daif. Ubad yang meriwayatkan hadis ini tidak diiktiraf oleh Imam Bukhari.

Berkata Ibnu Syahin dalam kitabnya Al-Jana’iz: “Bercerita kepada kami Ibnu Abu Daud, dari Ahmad bin Amr, dari Ibnu Wahab, dari Muhammad bin Ajlan, dari Muhammad bin Mukandar, berkata: “Pernah pada suatu hari Umar bin Khattab menyembahyangkan jenazah, tiba-tiba beliau mendengar suara di belakangnya: “Ala, janganlah duluan dari kami mengerjakan solat jenazah ini. Tunggulah sudah sempurna dan cukup orang di belakang baru memulakan takbir.” Kemudian lelaki itu berkata lagi: “Kalau engkau seksa dia ya Allah, maka sesungguhnya dia telah derhaka kepada-Mu. Tetapi kalau Engkau mahu mengampuni dia, maka dia betul-betul mengharap keampunan daripada-Mu.” Umar bersama sahabat-sahabat yang lain sempat juga melihat lelaki itu. Tatkala mayat itu sudah dikuburkan, lelaki itu masih meratakan tanah itu sambil berkata: “Beruntunglah engkau wahai orang yang dikuburkan di sini.” Umar bin Khattab berkata: “Tolong bawa ke sini lelaki yang bercakap itu supaya kita tanya tentang solatnya dan maksud kata-katanya itu.” Tiba-tiba lelaki itu pun sudah menghilang dari pandangan mereka. Mereka mencari ke arah suaranya tadi tiba-tiba mereka melihat bekas telapak kakinya yang cukup besar. Umar bin Khattab berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir yang pernah diceritakan oleh Nabi kita Muhammad SAW.” Ada juga yang mengatakan hadis ini tidak sahih. Kata Ibnu al-Jauzi hadis ini majhul (tidak dikenal) dan dalam sanadnya ada yang terputus di antara Ibnul Mukandar dengan Umar. ^ Kembali ke atas ^ Khidir datang menegur peniaga Berkata Ibnu Abu Dunia: “Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Ali bin Syaqiq, dari Ibnu Al-Mubarak, dari Umar bin Muhammad bin Al-Mukandar, berkata: “Ada seorang peniaga yang banyak memuji-muji barangnya dan banyak bersumpah untuk meyakinkan orang lain (pembeli). Tiba-tiba datang kepadanya seorang tua dan berkata: “Wahai peniaga, juallah barangmu tetapi jangan banyak bersumpah.” Peniaga itu masih banyak bercakap dan bersumpah, yang menyebabkan orang tua itu berkata lagi: “Wahai pedagang, berniagalah secara jujur dan jangan banyak bersumpah.” Bahkan orang tua itu berkata lagi: “Berniagalah secara yang patut sahaja.” Peniaga itu berkata: “Inilah yang patut saya lakukan.” Kemudian orang tua itu berkata: “Utamakanlah kejujuran walaupun berat melakukannya dan tinggalkan berbohong walaupun ia akan membawa keuntungan.” Akhirnya peniaga itu berkata: “Kalau begitu tuliskanlah semua apa yang engkau sebutkan ini. “Orang tua itu berkata: “Kalau ditakdirkan sesuatu itu maka adalah ia.” Menurut mereka yang datang menegur itu adalah Nabi Khidir. Diriwayatkan oleh Abu Amr, dari Yahya bin Abi Talib, dari Ali bin Ashim, dari Abdullah, berkata: “Pernah Ibnu Umar duduk-duduk di satu tempat, sedangkan seorang lelaki (tidak berapa jauh dari tempatnya) sudah mula membuka jualannya. Peniaga itu banyak bersumpah untuk melariskan jualannya. Tiba-tiba datang kepadanya seorang lelaki dan berkata: “Takutlah kepada Allah dan jangan berbohong. Hendaklah engkau

berkata jujur walaupun berat melakukannya dan jauhilah berdusta walaupun ia membawa manfaat. Dan jangan tambah-tambah dari cerita orang lain (apa yang ada).” Ibnu Umar yang mendengar teguran orang tua itu berkata kepada peniaga itu: “Pergi ikuti dia dan suruh supaya dia tulis apa yang disebutkannya tadi.” Peniaga itu pergi mengikutinya dan meminta supaya menuliskan apa yang disebutkannya tadi tetapi orang tua itu hanya berkata: “Kalau sesuatu itu sudah ditentukan Allah, maka adalah ia.” Kemudian orang tua itu pun tiba-tiba sahaja menghilang. Peniaga itu kembali menjumpai Ibnu Umar serta menceritakan apa jawapan orang tua itu. Ibnu Umar berkata: “Yang datang itu adalah Nabi Khidir.” Tetapi kata Ibnu Al-Jauzi hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Ahsim daif. Bahkan katanya Ali bin Ashim itu lemah ingatannya. Ada juga riwayat yang hampir sama dengan ini menyebutkan: “Ada dua orang lelaki yang berjualan tidak berapa jauh dari Abdullah bin Umar. Salah seorang dari peniaga itu banyak bersumpah untuk melariskan barang-barang jualannya. Ketika ghairah bercerita mempromosikan jualannya, tiba-tiba datang seorang lelaki kemudian berkata kepada peniaga yang banyak bersumpah itu: “Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan jangan banyak bersumpah. Sesungguhnya tidak akan bertambah rezekimu jika engkau banyak bersumpah. Dan sebaliknya, tidak akan mengurangkan kepada rezekimu jika engkau tidak bersumpah. Oleh itu bercakaplah yang wajar-wajar sahaja.” Peniaga itu menjawab: “Inilah yang saya anggap wajar.” Lelaki tua itu mengulang nasihatnya lagi. Dan ketika dia sudah mahu pergi, dia berkata lagi: “Ketahuilah bahawa termasuk daripada iman ialah mengutamakan kejujuran walaupun berat melaksanakannya dan meninggalkan pembohongan walaupun dianggap membawa keuntungan.” Setelah memberi nasihat atau teguran, lelaki itu pun pergi. Ibnu Umar berkata kepada peniaga itu: “Kejar dia dan minta supaya ditulisnya apa yang disebutkannya tadi.” Peniaga itu pergi mengejarnya dan berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, tuliskanlah apa yang engkau sebutkan tadi supaya tuan dirahmati Allah.” Lelaki itu tidak ada menulisnya tetapi mengulangi apa yang disebutkannya tadi. Jadi, menurut Ibnu Umar yang datang itu adalah Nabi Khidir. ^ Kembali ke atas ^ Kisah Khidir dan Abu Mahjan Diriwayatkan oleh Saif dalam kitab Al-Futuh, bahawa satu jemaah berada bersama Saad bin Abi Waqqas, maka mereka melihat Abu Mahjan berperang, maka yang meriwayatkan ini pun menceritakan kisah Abu Mahjan secara panjang lebar. Dari kesimpulan ceritacerita mereka mengatakan bahawa Nabi Khidir masih hidup pada zaman itu.

Berkata Abu Abdullah bin Battah: “Bercerita kepada kami Syuaib bin Ahmad, yang didengarnya dari ayahnya, dari Ibrahim, bin Abdul Hamid, dari Ghalib bin Abdullah, dari Hasan Basri berkata: “Seorang lelaki berfahaman Ahli Sunnah Waljamaah berlainan pendapat dan berhujah dengan seorang lelaki bukan Ahli Sunnah. Mereka berdebat mengkaji masalah qadar. Mereka berdebat di tengah-tengah perjalanan. Masing-masing mereka mempertahankan pendapatnya dan berbantah dengan suara yang kuat tetapi akhirnya sepakat siapa yang duluan datang ke tempat mereka berhujah itu akan diangkat sebagai pemutus di antara mereka. Tidak lama kemudian, muncullah seorang lelaki memikul bungkusan sedangkan rambut dan pakaiannya sudah berabu dan jalannya menunjukkan seolah-olah sudah kepenatan. Mereka berkata kepada lelaki itu: “Tadi kami berdebat tentang qadar dan masing-masing di antara kami memberikan hujah dan dalilnya tetapi tidak tahu siapa di antara kami yang benar. Kami sudah sama-sama setuju bahawa siapa orang yang mula-mula datang ke tempat ini akan kami angkat sebagai hakim. Maka sekarang kami minta tolong kepada tuan untuk menghakimi kami.” Lelaki itu meletakkan bungkusannya kemudian duduk. Setelah berehat sebentar dan nafasnya sudah mulai tenang, dia berkata: “Kalau begitu duduklah kamu disini.” Kemudian lelaki itu menghakimi mereka secara bijaksana.” Menurut Hasan Basri lelaki yang mengadili mereka itu adalah Nabi Khidir. ^ Kembali ke atas ^ Nabi Khidir memberi pengajaran Diriwayatkan oleh Hammad bin Umar, dari A-Sara bin Khalid, dari Jakfar bin Muhammad, dari ayahnya, dari datuknya Ali bin Husain, katanya pembantu mereka pergi berlayar menaiki kapal. Ketika dia mahu mendarat tiba-tiba dia melihat di atas pantai duduk seorang lelaki yang sedang menerima hidangan makanan dari langit. Makanan itu diletakkan di hadapannya kemudian dia pun memakannya. Setelah dia kenyang, makanan itu diangkat semula ke langit. Pembantu yang merasa hairan itu memberanikan dirinya mendekati orang itu sambil berkata kepadanya: “Hamba Allah yang manakah engkau ini?” Lelaki itu berkata: “Aku adalah Khidir yang barangkali engkau sudah pernah mendengar nama itu.” Pembantu itu bertanya lagi: “Dengan (amalan) apakah didatangkan kepadamu makanan dan minuman ini?” Lelaki itu menjawab: “Dengan nama Allah yang Maha Agung.” Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Al-Zuhdi, yang diterima dari Hammad bin Usamah, dari Mas’ar, dari Maan bin Abdul Rahman, dari Aun bin Abdullah, dari Utbah, dari Ibnu Mas’ud, mengatakan: “Ada seorang lelaki di Mesir sedang bercucuk tanam di kebunnya. Ketika itu dia sedang gelisah dan dia tunduk mengerjakan ladangnya. Ketika dia mengangkat kepalanya, tiba-tiba di melihat di hadapannya ada seorang lelaki sedang berdiri memperhatikan apa yang dilakukannya dan memandangi wajahnya. Lelaki itu

berkata kepadanya: “Kuperhatikan dari tadi engkau murung dan gelisah, mengapa begitu?” Lelaki yang bercucuk tanam itu berkata: “Tidak ada apa-apa.” Kemudian lelaki yang datang tadi berkata: “Dunia adalah kesenangan yang sedikit dan masanya amat terhad, dan kesenangan itu dinikmati oleh orang baik dan orang jahat. Sedangkan akhirat kesenangan yang hakiki dan abadi.” Mendengar yang demikian lelaki yang bercucuk tanam itu berkata: “Sebenarnya saya sedih memikirkan keadaan kaum muslimin sekarang ini. Orang yang datang itu berkata: “Allah SWT akan membebaskanmu dari kesusahan kerana engkau ambil-berat terhadap nasib kaum Muslimin. Cuba tanya siapakah orangnya yang meminta kepada Allah kemudian Allah tidak memenuhi permintaannya, siapakah orang yang doanya tidak terkabul? Siapakah yang berserah kepada Allah lalu Allah tidak melindunginya?” Mus’ir berkata: “Menurut mereka orang yang memberi pengajaran itu adalah Khidir.” .^ Kembali ke atas ^ Nabi Khidir datang ke Baitul Haram Berkata Abu Naim dalam kitab Al-Hilyah: “Bercerita kepada kami Ubaidullah bin Muhammad, dari Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Mansur, dari Ahmad bin Jamil, katanya berkata Sufyan bin Ainah: “Pada waktu saya tawaf di Baitullah, tiba-tiba saya melihat seorang yang sedang memimpin satu kumpulan manusia mengerjakan tawaf. Saya bersama orang yang berdiri di sekelilingku memperhatikan lelaki itu. Ada di antara mereka yang berkata: “Lelaki yang memimpin kumpulan yang tawaf itu nampaknya seorang yang ikhlas dan berilmu.” Kami amati dia bahkan kami ikuti ke mana dia pergi. Lelaki itu pergi ke maqam kemudian mengerjakan solat di situ. Selesai solat dia menadahkan kedua tangannya dan berdoa. Setelah itu dia melihat ke arah kami dan berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Aku adalah raja. Kamu mendakwa diri kamu sebagai raja.” Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah kiblat, menadahkan tangannya sebagai tanda berdoa kemudian berpaling kepada kami dan berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Akulah yang hidup dan tidak akan mati untuk selamanya. Kamu mendakwa diri kamu hidup dan tidak akan mati." Setelah itu dia menghadap ke arah kiblat dan mendoa. Selesai berdoa berpaling kepada kami sambil berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Akulah Tuhan yang apabila menghendaki sesuatu akan ada ia. Ada di antara kamu yang mengaku apabila menginginkan sesuatu akan ada.” Kata Ibnu Ainah lagi: “Kemudian dia pun pergi dan kami tidak melihatnya lagi. Setelah itu saya berjumpa dengan Sufyan As-Tsauri dan dia berkata: “Barangkali lelaki itu adalah Khidir atau wali Allah yang lain.”

Ada diceritakan ketika Hasan Basri berceramah di hadapan jemaahnya, tiba-tiba datang seseorang yang matanya kehijau-hijauan. Melihat yang demikian Hasan Basri bertanya kepadanya: “Apakah memang begini engkau dilahirkan oleh ibumu atau ini sebagai tanda?” Orang yang baru datang itu berkata: “Apakah sememangnya engkau kenal kepadaku wahai Abu Said?” Hasan Basri berkata: “Siapa engkau sebenarnya?” Lelaki itu memperkenalkan dirinya sehingga jelas bagi semua jemaah yang ada di tempat itu. Hasan Basri berkata lagi: “Tolong ceritakan bagaimana kisahmu.” Lelaki itu berkata: “Pernah pada suatu hari dahulu aku mengangkut semua barangbarangku ke dalam kapal. Aku pun berlayar menuju Cina. Ketika berlayar mengharungi lautan yang dalam, tiba-tiba angin bertiup kencang. Terjadi ombak yang begitu hebat dan kapal yang saya naiki pun terbalik. Rupanya ajalku belum tiba, aku dibawa oleh ombak ke pantai. Aku terdampar di satu pulau yang tidak didiami oleh manusia. Empat bulan lamanya aku keseorangan di pulau itu. Makanan tidak ada kecuali daun-daunan dan batang kayu yang lapuk. Bahkan minuman pun tidak ada kecuali air mata yang sentiasa mengalir kerana sedihnya. Tidak terdaya lagi menahankan hidup seperti itu sehingga aku sudah bermaksud berenang menyeberangi lautan yang luas itu. Ketika berjalan mendekati laut yang ombaknya melambai-lambai itu, tiba-tiba di hadapanku sudah ada istana yang pintunya seperti perak. Kubuka pintunya rupanya di dalam ada bilik-bilik dan beberapa ruang tamu yang lengkap dengan perhiasan. Di dalam istana itu juga ada beberapa buah peti yang dihiasi dengan permata. Aku buka salah satu peti itu. Aku dekati peti itu kemudian terasalah semerbak yang cukup harum. Aku buka perlahan-lahan, rupanya di dalam ada mayat yang masih segar seperti orang tidur. Aku tutup semula peti itu kemudian aku keluar dari istana itu. Sebaik sahaja turun dari tangga istana, aku berjumpa dengan dua orang pemuda kacak dan nampak ramah. Mereka bertanya siapa aku dan aku pun memberikan butir-butir peribadiku. Mereka berkata: “Pergilah ke pohon sana. Di bawah pohon itu ada taman yang indah. Dan di situ nanti ada orang tua yang sedang mengerjakan solat. Dia itu baik orangnya. Ceritakan dirimu dan keadaanmu kepadanya kemudian nanti dia akan menunjukkan jalan kepadamu.” Aku pun pergi ke pohon yang mereka tunjukkan itu. Memang benar, di bawahnya ada seorang lelaki tua sedang duduk berzikir. Aku ucapkan salam kepadanya kemudian dia pun menjawabnya. Dia tanya siapa diriku kemudian aku pun menerangkannya. Dia tanya mengapa aku sampai di tempat itu kemudian aku ceritakan semuanya. Lelaki itu terdiam sejenak merenungkannya. Dia tanya mengapa aku sampai di tempat itu kemudian aku ceritakan semuanya. Lelaki itu terdiam sejenak merenungkan perjalananku dan macam-macam yang aku lihat sebelumnya. Dia tanya lagi di mana kampungku kemudian aku ceritakan. Kemudian lelaki itu berkata: “Kalau begitu duduklah dahulu.”

Aku duduk sahaja memperhatikan lelaki itu. Tidak lama kemudian datanglah tumpukan awan mendekati beliau. Anehnya awan itu sanggup berkata seperti manusia dengan ucapan: “Assalamu Alaikum ya wali Allah.” Beliau menjawab salam awan itu kemudian awan itu pun berhenti di hadapan beliau. Beliau bertanya kepada awan itu: “Ke mana engkau mahu pergi?” Awan itu menjawab: “Aku mahu pergi ke kampung ini dan kampung ini.” Kemudian awan itu pun pergi seperti ditiup angin. Datang lagi awan-awan yang lain dan kesemuanya berhenti di depan beliau. Beliau bertanya lagi kepada awan yang datang kemudian: “Ke mana engkau mau pergi?” Awan itu menjawab: “Saya mahu pergi ke Basrah.” Beliau berkata: “Kalau begitu turun dahulu.” Awan itu turun dan berhenti di hadapan beliau. Beliau berkata: “Bawa orang ini ke depan rumahnya dengan selamat.” Nampaknya awan itu sudah siap untuk mengangkut saya. Sebelum berangkat, saya bertanya kepada orang tua itu: “Demi Tuhan yang telah memuliakan engkau, tolong ceritakan kepadaku apa itu istana tadi, siapa dua orang pemuda itu dan siapa engkau.” Orang tua itu berkata: “Istana yang engkau lihat tadi adalah tempat para syuhada yang gugur di laut. Orang-orang yang mati syahid di laut telah diangkut oleh malaikat. Mayat para syuhada itu mereka masukkan ke dalam peti yang dihiasi dengan emas dan permata, disembur dengan wangi-wangian dan mereka masukkan (simpan) di dalam istana seperti yang engkau lihat tadi. Dua orang pemuda tampan yang engkau jumpai tadi adalah malaikat yang disuruh Allah untuk menguruskan mereka pada waktu pagi dan petang. Sedangkan aku ini adalah Khidir. Aku dahulu ada memohon kepada Allah supaya mengumpulkan atau menggabungkan aku dengan umat nabi kamu Muhammad SAW.” Lelaki yang dibawa awan dan datang menjumpai Hasan Basri itu berkata lagi: “Sewaktu terbang bersama awan, aku terperanjat kerana melihat sesuatu yang mengejutkan. Dan itulah sebabnya mataku seperti yang engkau lihat ini.” Mendengar yang demikian Hasan Basri berkata: “Sungguh mengagumkan pengalaman hidupmu.” Menurut satu riwayat, Raja Sulaiman bin Abdul Malik telah menyuruh menterinya menangkap seorang lelaki yang sangat dikehendaki untuk dibunuh. Sebaik sahaja mengetahui perintah raja itu, lelaki yang dicari tadi segera melarikan diri. Lelaki itu lari ke kampung lain. Di kampung itu dia mendengar berita hangat bahawa orang bernama ini disuruh tangkap untuk dibunuh. Dia semakin ketakutan kemudian lari lagi ke kampung lain. Di kampung itu pun rupanya sudah gempar berita itu yang menyebabkan dia lari lagi ke kampung lain. Begitulah yang dia dengar setiap pergi ke satu kampung. Akhirnya dia terfikir untuk lari ke negeri di luar kekuasaan Sulaiman bin Abdul Malik.

Sekarang dia sudah sampai di satu padang pasir yang amat luas, yakni di tempat itu tidak ada pokok yang tumbuh, tidak ada air dan makanan apapun, bahkan nampaknya tempat itu adalah tanah yang tidak pernah diinjak oleh manusia. Di situ dia melihat seorang lelaki tengah mengerjakan solat. Dia pandang di sekeliling orang yang solat itu, ternyata tidak ada tunggangan, tidak ada bekalan dan sebagainya. Dia begitu hairan melihat lelaki itu mengapa berada seorang diri di tempat itu. Dia ingin mendekati lelaki itu tetapi tidak jadi kerana ketakutan. Hatinya bertanya: “Ini manusia atau jin ini.” Dia beranikan dirinya untuk mendekati lelaki itu. Kemudian lelaki itu memandang ke arahnya dan berkata: “Barangkali Sulaiman bin Abdul Malik yang membuatmu ketakutan sehingga tersesat ke tempat ini.” Dia berkata: “Betul tuan.” Lelaki itu berkata: “Mengapa tidak engkau buat pendinding dirimu?” Dia bertanya: “Pendinding apa maksudnya?” Lelaki itu berkata: “Bacalah zikir seperti ini (yang maksudnya): Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Esa yang tidak ada Tuhan selain-Nya. Maha Suci (Tuhan) Yang Maha terdahulu dan tidak ada yang menjadikan-Nya. Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Kekal dan tidak akan binasa. Maha Suci (Tuhan) Yang Dia setiap hari dalam kesibukan. Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Maha Suci (Tuhan) yang telah menciptakan apa yang dilihat dan tidak kelihatan. Maha Suci (Tuhan) yang mengajari segala sesuatu tanpa pengajaran secara langsung. Dalam zikir di atas ada dinyatakan bahawa Allah setiap hari atau waktu berada dalam kesibukan. Ini sebenarnya ada ditemui di dalam Quran, iaitu ayat yang mengatakan: Setiap waktu Dia (Allah) dalam kesibukan. (Al-Rahman: 29) Maksudnya Allah SWT sentiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezeki kepada semua makhluk dan sebagainya. Orang itu berkata: “Bacalah zikir ini.” Lelaki itu berkata: “Maka saya pun menghafal zikir itu dan membacanya. Tiba-tiba lelaki itu sudah menghilang dan tidak nampak lagi. Tetapi berkat amalan itu, perasaan takut sudah hilang dari diriku. Aku sudah bermaksud pulang ke kampungku menjumpai keluargaku, bahkan aku ingin pergi menjumpai Sulaiman bin Abdul Malik. Pada suatu hari, yang mana rakyat jelata dibolehkan berjumpa dengannya, saya pun masuk ke istananya. Sebaik sahaja saya masuk ke ruang tamunya, dia memandangiku seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Dia mendekati aku kemudian berkata: “Engkau telah menyihir aku.” Saya jawab dengan tenang: “Wahai Amirul Mukminin, saya tidak ada mengguna-guna tuan. Saya tidak pernah belajar ilmu sihir dan saya tidak ada menyihir tuan.” Sulaiman bin Abdul Malik menerangkan apa yang ada dalam hatinya secara jujur: “Dulu aku begitu marah melihat engkau. Aku sudah bertekad akan membunuh engkau. Rasanya kerajaanku ini tidak sempurna kalau tidak membunuh engkau. Tetapi setelah melihat wajahmu tadi, aku begitu sayang kepada engkau. Sekarang ceritakan secara jujur apa

yang engkau amalkan itu. Dia pun menyebutkan zikir tadi. Mendengar yang demikian Sulaiman bin Abdul Malik berkata: “Demi Allah Khidirlah yang mengajarkan amalan itu kepadamu.” Akhirnya raja memaafkan segala kesalahannya dan menyayanginya. ^ Kembali ke atas ^ Amalan yang paling disukai Allah Dari Raja’, beliau berkata: “Pernah pada suatu hari ketika saya berada di samping Sulaiman bin Abdul Malik, tiba-tiba datang seorang lelaki tampan. Lelaki itu memberi salam kemudian kami jawab. Kemudian dia berkata: “Wahai Raja’, sesungguhnya telah diuji keimananmu ketika engkau dekat dengan lelaki ini (Raja Sulaiman). Kalau engkau dekat dengan dia, maka engkau akan celaka. Wahai Raja’, engkau mesti sentiasa berbuat baik dan menolong orang-orang lemah. Ketahuilah wahai Raja’, sesiapa yang mempunyai kedudukan di kerajaan sultan, lalu dia mengangkat hajat orang-orang lemah yang mereka tidak sanggup menyampaikannya, maka orang yang mengangkat atau menyampaikan itu akan menjumpai Allah pada hari kiamat dalam keadaan kedua tumitnya tetap ketika berhisab. Ketahuilah wahai Raja’ bahawa sesiapa yang menunaikan hajat saudaranya sesama muslim maka Allah akan menunaikan hajatnya. Dan ketahuilah wahai Raja’ bahawa amalan yang paling disukai Allah ialah amalan menyenangkan hati orang mukmin.” Setelah memberikan pengajaran yang bernas itu, tiba-tiba lelaki itu sudah menghilang. Ramai yang berpendapat bahawa yang datang memberikan pengajaran itu ialah Nabi Khidir. Mas’ab bin Thabit bin Abdullah bin Zubair adalah seorang yang rajin beribadat. Dia selalu berpuasa dan mengerjakan solat tidak kurang dari seribu rakaat sehari semalam. Dia ada berkata: “Pernah ketika aku berada di dalam masjid sedangkan orang semuanya sudah pulang, ke rumah masing-masing, tiba-tiba datang seorang lelaki yang tidak saya kenal. Lelaki itu menyandarkan badannya ke dinding masjid sambil berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahawa aku berpuasa sejak kelmarin. Sampai sekarang pun aku masih berpuasa. Aku tidak mendapatkan makanan dan minuman dan aku menginginkan al-Tharid (nama makanan). Berikanlah kepadaku ya Allah makanan dari sisi Engkau.” “Tiba-tiba saya melihat seorang pelayan datang membawa hidangan. Pelayan itu nampaknya tidak seperti orang biasa. Orangnya tampan, bersih dan pakaiannya kemas. Dia berjalan ke arah lelaki yang berdoa tadi sambil meletakkan hidangan itu di hadapannya. Lelaki itu pun membetulkan duduknya menghadap hidangan itu. Sebelum mencicipi makanan itu dia memandang saya dan mengajak saya supaya ikut makan bersamanya. Hatiku berkata: “Syukur dia mengajak saya makan bersama.” Ketika itu saya yakin makanan itu didatangkan dari syurga sehingga saya pun ingin betul mencuba. Baru sedikit saya cuba tahulah saya bahawa makanan itu bukan makanan yang biasa di dunia ini.

Sebenarnya saya merasa segan dan malu kepada orang yang tidak saya kenal itu. Belum lagi kenyang rasa perutku saya sudah mengucapkan terima kasih dan pergi ke tempatku semula tadi. Tetapi saya masih terus memperhatikan lelaki itu. Setelah dia selesai makan, datang lagi pelayan tadi mengambil hidangan itu. Dia pergi lagi ke arah tempat datang tadi. Lelaki yang baru selesai makan itu pun sudah berdiri dan nampak pergi. Aku kejar dia kerana ingin tahu siapa dia sebenarnya. Tetapi malangnya dia tiba-tiba saja menghilang dan saya tidak tahu ke mana perginya. Besar kemungkinan lelaki itu adalah Nabi Khidir.” Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, dari Ibrahim bin Abdullah bin Al-Mughirah, dari Abdullah, berkata: “Telah bercerita kepadaku ayahku bahawa pengurus sebuah masjid berkata kepada Walid bin Abdul Malik: “Sesungguhnya Nabi Khidir sembahyang setiap malam di masjid.” Dari Daud bin Yahya, katanya bercerita seorang lelaki yang selalu berada di Baitul Maqdis: “Pada waktu saya berjalan di salah satu lembah di Jordan, saya melihat di lembah bukit itu ada orang yang sedang mengerjakan solat. Saya lihat di atasnya ada awan yang melindunginya daripada panas matahari. Menurut tekaanku lelaki itu adalah Nabi Ilyas. Saya dekati dia kemudian kuucapkan salam kepadanya. Dia berpaling kepadaku sambil menjawab salamku. Aku tanya: “Siapa anda sebenarnya wahai orang yang dirahmati Allah?” Dia diam sahaja dan tidak menjawab soalanku. Kutanya lagi seperti soalan pertama kemudian dia menjawab: “Aku adalah Ilyas An-Nabi.” Tiba-tiba sahaja merinding bulu romaku. Aku gementar, dan yang paling kutakutkan dia menghilang sebelum saya sempat menanyakan itu dan ini. Aku berkata kepadanya: “Tolong doakan supaya Allah menghilangkan penyakitku ini." Dia pun berdoa. Tiba-tiba penyakitku terasa sudah sembuh. Aku tanya lagi: “Kepada siapa tuan diutus?” Beliau menjawab: “Aku diutus kepada penduduk Baklabakka.” Kutanya lagi: “Apakah sekarang ini tuan masih ada menerima wahyu?” Beliau menjawab: “Bukankah sudah diutus Muhammad sebagai nabi penutup? Aku tidak ada menerima wahyu lagi.” Katanya lagi: “Kalau begitu berapa lagi nabi yang masih hidup sekarang ini?” Beliau menjawab: “Sekarang ada empat orang lagi nabi yang masih hidup, iaitu saya sendiri (Ilyas), Khidir di bumi (darat), dan Nabi Idris bersama nabi Isa di langit.” Kutanya lagi: “Apakah tuan pernah berjumpa dengan Nabi Khidir?” Beliau menjawab” “Ya, setiap tahun kami berjumpa di padang Arafah, yakni pada musim haji.” Kutanya: “Apa yang kamu lakukan jika berjumpa di sana?” Beliau menjawab: “Aku ambil rambutnya kemudian dia pun mengambil (mencukur rambutku).” Kutanya lagi: “Berapa orang lagi Al-Abdal (Wali Allah yang lain)?” Beliau menjawab: “Ada 60 orang lelaki. 50 orang berada di kawasan Mesir sampai pantai Furat, 2 orang di Masisah, 1 orang di Antokiah dan 7 orang di pelbagai penjuru dunia. Merekalah yang

mengatur hujan dan mereka yang menolong untuk mengalahkan musuh Allah, bahkan di tangan mereka berdirinya dunia ini, dia matikan mereka semua supaya dunia ini pun hancur.” Ini menurut satu pendapat sangat tidak sahih. ^ Kembali ke atas ^ Nabi Khidir mengubati dengan Asmaul Husna Berkata Abul Hasan bin Al-Munadi: “Bercerita kepada kami Ahmad bin Mulaib, dari Yahya bin Said, dari Abu Jakfar Al-Kufi, dari Abu Umar Al-Nasibiy, berkata: “Aku pergi mencari Maslamah bin Masqalah di Syam. Ramai yang mengatakan Maslamah termasuk wali Allah juga. Setelah berusaha mencarinya, saya menjumpainya di salah satu lembah di Jordan. Beliau berkata kepadaku: “Mahukah engkau kuceritakan kepadamu tentang apa yang kulihat tadi di lembah bukit ini?” Kujawab: “Tentu aku ingin mendengarnya.” Beliau berkata: “Ketika saya datang tadi ke lembah ini, saya melihat seorang syekh yang sedang mengerjakan solat di bawah pokok itu. Besar kemungkinan lelaki itu adalah Nabi Ilyas. Aku berjalan mendekatinya kemudian memberi salam kepadanya sekalipun dia sedang mengerjakan solat. Saya lihat dia rukuk, kemudian iktidal, dan kemudian sujud.Selesai solat dia memandang ke arah suaraku datang kemudian menjawab salamku setelah melihat aku berdiri di situ. Aku tanya dia: “Siapakah engkau wahai orang yang dirahmati Allah.” Dia menjawab : “Aku adalah Ilyas Al-Nabi.” Aku begitu gugup mendengar kata-katanya itu.Dia datang mendekati aku. Dia letakkan tangannya di dadaku sehingga aku merasakan kesejukan tangannya. Aku berkata kepadanya: “Wahai nabi Allah, doakanlah supaya Allah menghilangkan penyakitku ini.” Kemudian beliau pun berdoa dengan menggunakan nama Allah, lima di antaranya dalam bahasa Arab dan tiga lagi dalam bahasa Siryani. Beliau membaca: “Ya Wahid, Ya Ahad, Ya Somad, Ya Fardun, Ya Witrun. Beliau menyebut tiga potong perkataan lagi yang saya sendiri tidak tahu maknanya. Kemudian beliau menarik tanganku sambil mendudukkan aku.Ketika itu rasanya penyakitku sudah hilang. Aku bertanya kepadanya: “Wahai nabi Allah, Bagaimana pendapatmu tentang orang ini (saya sebutkan Mirwan bin Muhammad), yang ketika itu menahan beberapa orang ulama. Beliau berkata: “Bagaimana hubungan kamu ?” Aku menjawab “Wahai nabi Allah kalau aku berjumpa dengannya dia berpaling. Dia tidak memberi sebarang komen. Aku bertanya lagi: “Wahai nabi Allah,apakah sekarang ini masih ada di dunia ini AlAbdal. (wali-wali Allah)?Beliau menjawab:”Ada” Mereka semua ada sebanyak 60 orang. 50 orang di kawasan Mesir sampai pantai Furat, 3 orang di Masisah, 1 orang di Antokiah dan yang lainnya di daerah Arab lainnya.”

Aku bertanya lagi:”Wahai nabi Allah, Apakah tuan ada berjumpa dengan nabi Khidir?” Beliau menjawab “Ya setiap musim haji kami berjumpa di Mina.” Aku bertanya: Apa yang kamu lakukan jika berjumpa?” Beliau menjawab: “Aku mengambil rambutnya dan dia pun mengambil rambutku.” Aku berkata kepadanya: “Wahai nabi Allah. sebenarnya saya ini adalah orang yang hidup sebatang kara, tidak mempunyai isteri dan anak. Kalau tuan bersetuju biarlah saya ikut bersama tuan ke mana sahaja tuan pergi.” Beliau menjawab: Engkau tidak sanggup berteman denganku.” Ketika bercerita dengan beliau tiba-tiba aku melihat satu hidangan makanan keluar dari akar pohon itu kemudian diletakkan di hadapan beliau. Sementara orang yang mengangkatnya tidak kelihatan. Dalam hidangan itu ada tiga ketul roti. Beliau sudah menghulurkan tangannya untuk makan makanan itu. Tetapi tiba-tiba beliau belum jadi memakannya dan beliau mengajak aku supaya sama-sama makan. Saya duduk di sebelah beliau, kemudian beliau berkata kepadaku: “Mulailah dengan Bismillah dan ambilah dari yang terdekat kepadamu “Kami pun memakannya bersamasama. Selepas makan saya lihat jelas dulang itu diangkat lagi tetapi tidak kelihatan orang yang mengangkatnya. Kemudian didatangkan lagi kepada beliau minuman tetapi tidak kelihatan orang yang membawanya. Beliau membagi dua minuman itu, separuh beliau minum dan separuh lagi beliau serahkan kepadaku. Saya cuba minuman itu, oh rasanya cukup lazat. Minuman itu lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Selesai minum saya letakkan tempatnya. Tiba-tiba saya lihat terangkat lagi tetapi tidak tahu siapa mengangkatnya. Kemudian beliau memandang ke bawah (tempat yang lebih rendah lagi), rupanya di situ sudah ada binatang menunggu yang lengkap dengan tempat duduknya. Binatang itu lebih besar dari keldai dan tidak sampai sebesar baghal. Beliau berjalan ke arah tunggangan itu. Aku kejar beliau dan aku minta supaya ikut bersamanya. Tetapi beliau berkata: “Bukankah sudah aku katakan bahawa engkau tidak sanggup mengikuti perjalananku?” Saya merasa kecewa dan hanya mampu berkata: “ Kalau begitu bagaimana caranya supaya saya berjumpa lagi dengan tuan?” Beliau menjawab: “ Kalau betul-betul ingin berjumpa denganku, kita akan berjumpa lagi nanti.” Tambah beliau lagi: “Semoga engkau dapat menjumpai aku lagi nanti pada bulan Ramadhan di Baitul Maqdis dalam keadaan iktikaf.” Beliau pergi ke bawah pohon dan aku ikuti dari belakang tetapi tiba-tiba beliau menghilang.” ^ Kembali ke atas ^

Dipetik Dari Buku: Kisah Nabi Khidir a.s. Pengarang: Al-Hafiz Ibnu Hajar al Asqalaniy.

________________________________________________________________________ _________ Kisah Nabi Khidr Dan Iskandar dzulkarnain

DI SEBALIK KISAH RAJA ISKANDAR DZUL QARNAIN MASUK KE TEMPAT GELAP

Pada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi*, Allah mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa'il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat Rofa'il: "Wahai malaikat Rofa'il ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit", malaikat Rofa'il berkata, "Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya".

Kemudian raja berkata, "Alanglah senangnya seandainya aku hidup bertahuntahun dalam beribadah kepada Allah". Lalu malaikat Rofa'il berkata, "Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya 'Ainul Hayat' yang bererti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan". Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa'il, "Apakah kau tahu tempat "Ainun Hayat itu?". mailaikat Rofa'il menjawab, "Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap". Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa'il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan 'Alim Ulama' pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu tetapi mereka menjawab, "Kita tidak tahu khabranya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, "Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam As, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap". "Di manakah tempat bumi gelap itu?" tanya raja. Seorang yang alim menjawab, "Di tempat keluarnya matahari".

Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. "Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap?". Para sahabat menjawab, "Kuda betina yang perawan". Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tenteranya yang seramai 6000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.

Di antara mereka adalah Nabi Khidir As, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir berjalan di depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat. Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam. Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya berkata kepada raja."Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya." Lalu Raja berkata: " Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak." Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: " Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian". Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa'il: " Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita?". "Tidak bisa kelihatan",jawab malaikat Rofa'il," akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan-kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian."

Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir As.

Di saat mereka berjalan, maka Allah memberi wahyu keapda Nabi Khidlir As," Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu". Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian." Kemudian beliau berjalan menuju kesebelah kanan jurang, maka dapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir As turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke "Ainul Hayat" (sumber air hidup) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air hidup tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi Khidlir As. tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.

(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa Nabi Khidlir As. adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa'il: "Gemercik ini adalah suara

benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga." Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah yakut yang berwarna merah dan jamberut yang berwarna hijau, maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal.
Diriwayatkan oleh Ats-tsa ' Labi dari Iman Ali Rodliayllohu ' anhu. 1. Cerita ini dikutib dari kitab "Baidai'iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 - 168 Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang

11. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 - 258.

SIAPA NABI KHIDIR?
1. Khidir adalah seorang anak cucu Nabi Adam yang taat beribadah kepada Allah dan ditangguhkan ajalnya. (Kitab Al Ifrad karya Daruquthani dan Ibnu Asakir riwayat Ibnu Abbas. 2. Ibu Khidir berasal dari Romowi sedangkan bapaknya keturunan bangsa Parsi. (Fathul Bari juz v1, halaman 310, Al Bidayah Wan Nihayah juz 1 hal 326 Ruhul Ma'ani juz xv hal 319). 3. Kata Al Alusi, "Aku tidak membenarkan semua sumber yang menyatakan tentang riwayat asal-usul Khidir. Tetapi An Nawawi menyebutkan bahawa Khidir adalah putera raja". (Fathul Bari juz v1 hal 390. 4. Riwayat lain mengisahkan bahawa Khidir itu anak Firaun. Wallahu a'lam bisshowab. (Tahdziebul Asma Wal Lughaat, juz 1 hal 177).

HIDUP ATAU MATI?
1. Kalangan Ulama beranggapan bahawa Khidir masih hidup. Pendapat ini tidak ditentang oleh kaum sufi dan ahli makrifat. Mereka sering berbincang tentang pengalaman bertemu, bercakap-cakap dengannya.

2. Banyak Ulama yang menpunyai dalil bukti tentang hidupnya Khidir sampai sekarang. (Syareah Muhaddzab An Nawawi juz v hal 305). 3. Abu Ishaq At Tsa'alibi berkata, "Bahawa Khidir tidak akan mati sampai akhir zaman nanti". (Tahdzibul Asma' Wal Lughat juz 1 hal 177, Fathul Bari juz v1 hal 310). 4. Ibrahim Al Harbi ditanya tentang hidupnya Khidir lalu menjawab, "Barangsiapa yang berkata mustahil terhadap masalah yang tidak diketahuinya, maka ia adalah syaitan yang berwujud manusia". (Rahul Ma'ani juz xv hal 320).
Dari buku KHIDLIR - Nabi atau Wali? Hidup atau Mati?Dialog dengan Nabi Hkidir Karya KH JAMALUDDIN KAFIE Penerbit PT. GAROEDA BUANA INDAH - INDONESIA. Gambar/ilustrasi sekadar hiasan. Photo/illustration for display purposes. http://sheikhmustafakamal.blogspot.com/2008/10/kisah-raja-iskandar-dzul-qarnain-masuk.html http://salafytobat.wordpress.com

Kisah Nabi Khidir Dalam Kitab Imam Ibnu Hajar Asqalaniy

| Takziah kepada keluarga Rasulullah SAW | Khidir datang menegur peniaga | Kisah Khidir dan Abu Mahjan | | Nabi Khidir memberi pengajaran | Nabi Khidir datang ke Baitul Haram | | Amalan yang paling disukai Allah | Nabi Khidir mengubati dengan Asmaul Husna | Takziah kepada keluarga Rasulullah SAW Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsir: “Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Abdul Aziz Al-Ausiy, dari Ali bin Abu Ali, dari Jakfar bin Muhammad bin Ali bin Husain, dari ayahnya, katanya Ali bin Abi Talib berkata: “Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah ucapan takziah. Datang kepada mereka (keluarga Nabi SAW) orang yang memberi takziah. Mereka mendengar orang memberi takziah tetapi tidak melihat orangnya. Bunyi suara itu begini: ‘Assalamu Alaikum Ahlal Bait Warahmatullahi Wabarakatuh. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanyasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah bagi setiap musibah, bagi Allah ada pengganti setiap ada yang binasa, begitu juga menemukan bagi setiap yang hilang. Kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.” Berkata Jakfar: “Bercerita kepadaku ayahku bahawa Ali bin Abi Talib ada berkata: “Tahukah kamu siapa ini? Ini adalah suara Nabi Khidir.” Berkata Muhammad bin Jakfar: “Adalah ayahku, iaitu Jakfar bin Muhammad, menyebutkan tentang riwayat dari ayahnya, dari datuknya, dari Ali bin Abi Talib bahawa datang ke rumahnya satu rombongan kaum Quraisy kemudian dia berkata kepada mereka: “Mahukah kamu aku ceritakan kepada kamu tentang Abul Qasim (Muhammad SAW)?” Kaum Quraisy itu menjawab: “Tentu sahaja mahu.” Ali bin Abi Talib berkata: “Jibril Alaihis salam pernah berkata kepada Rasulullah SAW: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahmad. Inilah akhir watanku (negeriku) di bumi. Sesungguhnya hanya engkaulah hajatku di dunia.” Maka tatkala Rasulullah SAW wafat, datanglah orang yang memberi takziah, mereka mendengarnya tetapi tidak melihat orangnya. Orang yang memberi takziah itu berkata: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai ahli bait. Sesungguhnya pada agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan bagi Allah ada yang menggantikan setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi

musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.” Mendengar yang demikian Ali bin Abi Talib berkata: “Tahukah kamu siapa yang datang itu? Itu adalah Khidir.” Berkata Saif bin Amr At-Tamimi dalam kitabnya Ar-Riddah, yang diterimanya dari Sa’id bin Abdullah, dari Ibnu Umar mengatakan: “Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah Abu Bakar ke rumah Rasulullah. Ketika beliau melihat jenazah Rasulullah SAW, beliau berkata: “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.” Kemudian beliau bersama sahabat-sahabat yang lain menyembahyangkan jenazah Rasulullah SAW. Pada waktu mereka menyembahyangkan jenazah Rasulullah SAW, mereka mendengar suara ajaib. Selesai solat dan mereka pun semuanya sudah diam, mereka mendengar suara orang di pintu mengatakan: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahli Bait. Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Hanyasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya pada agama Allah ada pengganti setiap ada yang binasa dan ada kelepasan dari segala yang menakutkan. Kepada Allah-lah kamu mengharap dan dengan-Nya berpegang. Orang yang diberi musibah akan diberi ganjaran. Dengarlah itu dan hentikan kamu menangis itu." Mereka melihat ke arah suara itu tetapi tidak melihat orangnya. Kerana sedihnya mereka menangis lagi. Tiba-tiba terdengar lagi suara yang lain mengatakan: “Wahai Ahli Bait, ingatlah kepada Allah dan pujilah Dia dalam segala hal, maka jadilah kamu golongan orang mukhlisin. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan ada pengganti setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya taat. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah orang yang diberi pahala.” Mendengar yang demikian itu berkata Abu Bakar: “Ini adalah Khidir dan Ilyas. Mereka datang atas kematian Rasulullah SAW.” Berkata Ibnu Abu Dunia, yang didengarnya dari Kamil bin Talhah, dari Ubad bin Abdul Samad, dari Anas bin Malik, mengatakan: “Sewaktu Rasulullah SAW meninggal dunia, berkumpullah sahabat-sahabat beliau di sekeliling jenazahnya menangisi kematian beliau. Tiba-tiba datang kepada mereka seorang lelaki yang bertubuh tinggi memakai kain panjang. Dia datang dari pintu dalam keadaan menangis. Lelaki itu menghadap kepada sahabat-sahabat dan berkata: “Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, ada pengganti setiap ada yang hilang. Bersabarlah kamu kerana sesungguhnya orang yang diberi musibah itu akan diberi ganjaran.” Kemudian lelaki itu pun menghilang daripada pandangan para sahabat. Abu Bakar berkata: “Datang ke sini lelaki yang memberi takziah.” Mereka memandang ke kiri dan kanan tetapi lelaki itu tidak nampak lagi. Abu Bakar berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir, saudara nabi kita. Beliau datang memberi takziah atas kematian Rasulullah SAW.” Dari tadi sudah banyak kita lihat ucapan-ucapan takziah yang hampir sama kata-katanya. Ada yang mengatakan hadis ini daif. Ubad yang meriwayatkan hadis ini tidak diiktiraf oleh Imam Bukhari.

Berkata Ibnu Syahin dalam kitabnya Al-Jana’iz: “Bercerita kepada kami Ibnu Abu Daud, dari Ahmad bin Amr, dari Ibnu Wahab, dari Muhammad bin Ajlan, dari Muhammad bin Mukandar, berkata: “Pernah pada suatu hari Umar bin Khattab menyembahyangkan jenazah, tiba-tiba beliau mendengar suara di belakangnya: “Ala, janganlah duluan dari kami mengerjakan solat jenazah ini. Tunggulah sudah sempurna dan cukup orang di belakang baru memulakan takbir.” Kemudian lelaki itu berkata lagi: “Kalau engkau seksa dia ya Allah, maka sesungguhnya dia telah derhaka kepada-Mu. Tetapi kalau Engkau mahu mengampuni dia, maka dia betul-betul mengharap keampunan daripada-Mu.” Umar bersama sahabat-sahabat yang lain sempat juga melihat lelaki itu. Tatkala mayat itu sudah dikuburkan, lelaki itu masih meratakan tanah itu sambil berkata: “Beruntunglah engkau wahai orang yang dikuburkan di sini.” Umar bin Khattab berkata: “Tolong bawa ke sini lelaki yang bercakap itu supaya kita tanya tentang solatnya dan maksud kata-katanya itu.” Tiba-tiba lelaki itu pun sudah menghilang dari pandangan mereka. Mereka mencari ke arah suaranya tadi tiba-tiba mereka melihat bekas telapak kakinya yang cukup besar. Umar bin Khattab berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir yang pernah diceritakan oleh Nabi kita Muhammad SAW.” Ada juga yang mengatakan hadis ini tidak sahih. Kata Ibnu al-Jauzi hadis ini majhul (tidak dikenal) dan dalam sanadnya ada yang terputus di antara Ibnul Mukandar dengan Umar. ^ Kembali ke atas ^ Khidir datang menegur peniaga Berkata Ibnu Abu Dunia: “Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Ali bin Syaqiq, dari Ibnu Al-Mubarak, dari Umar bin Muhammad bin Al-Mukandar, berkata: “Ada seorang peniaga yang banyak memuji-muji barangnya dan banyak bersumpah untuk meyakinkan orang lain (pembeli). Tiba-tiba datang kepadanya seorang tua dan berkata: “Wahai peniaga, juallah barangmu tetapi jangan banyak bersumpah.” Peniaga itu masih banyak bercakap dan bersumpah, yang menyebabkan orang tua itu berkata lagi: “Wahai pedagang, berniagalah secara jujur dan jangan banyak bersumpah.” Bahkan orang tua itu berkata lagi: “Berniagalah secara yang patut sahaja.” Peniaga itu berkata: “Inilah yang patut saya lakukan.” Kemudian orang tua itu berkata: “Utamakanlah kejujuran walaupun berat melakukannya dan tinggalkan berbohong walaupun ia akan membawa keuntungan.” Akhirnya peniaga itu berkata: “Kalau begitu tuliskanlah semua apa yang engkau sebutkan ini. “Orang tua itu berkata: “Kalau ditakdirkan sesuatu itu maka adalah ia.” Menurut mereka yang datang menegur itu adalah Nabi Khidir. Diriwayatkan oleh Abu Amr, dari Yahya bin Abi Talib, dari Ali bin Ashim, dari Abdullah, berkata: “Pernah Ibnu Umar duduk-duduk di satu tempat, sedangkan seorang lelaki (tidak berapa jauh dari tempatnya) sudah mula membuka jualannya. Peniaga itu banyak bersumpah untuk melariskan jualannya. Tiba-tiba datang kepadanya seorang lelaki dan berkata: “Takutlah kepada Allah dan jangan berbohong. Hendaklah engkau

berkata jujur walaupun berat melakukannya dan jauhilah berdusta walaupun ia membawa manfaat. Dan jangan tambah-tambah dari cerita orang lain (apa yang ada).” Ibnu Umar yang mendengar teguran orang tua itu berkata kepada peniaga itu: “Pergi ikuti dia dan suruh supaya dia tulis apa yang disebutkannya tadi.” Peniaga itu pergi mengikutinya dan meminta supaya menuliskan apa yang disebutkannya tadi tetapi orang tua itu hanya berkata: “Kalau sesuatu itu sudah ditentukan Allah, maka adalah ia.” Kemudian orang tua itu pun tiba-tiba sahaja menghilang. Peniaga itu kembali menjumpai Ibnu Umar serta menceritakan apa jawapan orang tua itu. Ibnu Umar berkata: “Yang datang itu adalah Nabi Khidir.” Tetapi kata Ibnu Al-Jauzi hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Ahsim daif. Bahkan katanya Ali bin Ashim itu lemah ingatannya. Ada juga riwayat yang hampir sama dengan ini menyebutkan: “Ada dua orang lelaki yang berjualan tidak berapa jauh dari Abdullah bin Umar. Salah seorang dari peniaga itu banyak bersumpah untuk melariskan barang-barang jualannya. Ketika ghairah bercerita mempromosikan jualannya, tiba-tiba datang seorang lelaki kemudian berkata kepada peniaga yang banyak bersumpah itu: “Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan jangan banyak bersumpah. Sesungguhnya tidak akan bertambah rezekimu jika engkau banyak bersumpah. Dan sebaliknya, tidak akan mengurangkan kepada rezekimu jika engkau tidak bersumpah. Oleh itu bercakaplah yang wajar-wajar sahaja.” Peniaga itu menjawab: “Inilah yang saya anggap wajar.” Lelaki tua itu mengulang nasihatnya lagi. Dan ketika dia sudah mahu pergi, dia berkata lagi: “Ketahuilah bahawa termasuk daripada iman ialah mengutamakan kejujuran walaupun berat melaksanakannya dan meninggalkan pembohongan walaupun dianggap membawa keuntungan.” Setelah memberi nasihat atau teguran, lelaki itu pun pergi. Ibnu Umar berkata kepada peniaga itu: “Kejar dia dan minta supaya ditulisnya apa yang disebutkannya tadi.” Peniaga itu pergi mengejarnya dan berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, tuliskanlah apa yang engkau sebutkan tadi supaya tuan dirahmati Allah.” Lelaki itu tidak ada menulisnya tetapi mengulangi apa yang disebutkannya tadi. Jadi, menurut Ibnu Umar yang datang itu adalah Nabi Khidir. ^ Kembali ke atas ^ Kisah Khidir dan Abu Mahjan Diriwayatkan oleh Saif dalam kitab Al-Futuh, bahawa satu jemaah berada bersama Saad bin Abi Waqqas, maka mereka melihat Abu Mahjan berperang, maka yang meriwayatkan ini pun menceritakan kisah Abu Mahjan secara panjang lebar. Dari kesimpulan ceritacerita mereka mengatakan bahawa Nabi Khidir masih hidup pada zaman itu.

Berkata Abu Abdullah bin Battah: “Bercerita kepada kami Syuaib bin Ahmad, yang didengarnya dari ayahnya, dari Ibrahim, bin Abdul Hamid, dari Ghalib bin Abdullah, dari Hasan Basri berkata: “Seorang lelaki berfahaman Ahli Sunnah Waljamaah berlainan pendapat dan berhujah dengan seorang lelaki bukan Ahli Sunnah. Mereka berdebat mengkaji masalah qadar. Mereka berdebat di tengah-tengah perjalanan. Masing-masing mereka mempertahankan pendapatnya dan berbantah dengan suara yang kuat tetapi akhirnya sepakat siapa yang duluan datang ke tempat mereka berhujah itu akan diangkat sebagai pemutus di antara mereka. Tidak lama kemudian, muncullah seorang lelaki memikul bungkusan sedangkan rambut dan pakaiannya sudah berabu dan jalannya menunjukkan seolah-olah sudah kepenatan. Mereka berkata kepada lelaki itu: “Tadi kami berdebat tentang qadar dan masing-masing di antara kami memberikan hujah dan dalilnya tetapi tidak tahu siapa di antara kami yang benar. Kami sudah sama-sama setuju bahawa siapa orang yang mula-mula datang ke tempat ini akan kami angkat sebagai hakim. Maka sekarang kami minta tolong kepada tuan untuk menghakimi kami.” Lelaki itu meletakkan bungkusannya kemudian duduk. Setelah berehat sebentar dan nafasnya sudah mulai tenang, dia berkata: “Kalau begitu duduklah kamu disini.” Kemudian lelaki itu menghakimi mereka secara bijaksana.” Menurut Hasan Basri lelaki yang mengadili mereka itu adalah Nabi Khidir. ^ Kembali ke atas ^ Nabi Khidir memberi pengajaran Diriwayatkan oleh Hammad bin Umar, dari A-Sara bin Khalid, dari Jakfar bin Muhammad, dari ayahnya, dari datuknya Ali bin Husain, katanya pembantu mereka pergi berlayar menaiki kapal. Ketika dia mahu mendarat tiba-tiba dia melihat di atas pantai duduk seorang lelaki yang sedang menerima hidangan makanan dari langit. Makanan itu diletakkan di hadapannya kemudian dia pun memakannya. Setelah dia kenyang, makanan itu diangkat semula ke langit. Pembantu yang merasa hairan itu memberanikan dirinya mendekati orang itu sambil berkata kepadanya: “Hamba Allah yang manakah engkau ini?” Lelaki itu berkata: “Aku adalah Khidir yang barangkali engkau sudah pernah mendengar nama itu.” Pembantu itu bertanya lagi: “Dengan (amalan) apakah didatangkan kepadamu makanan dan minuman ini?” Lelaki itu menjawab: “Dengan nama Allah yang Maha Agung.” Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Al-Zuhdi, yang diterima dari Hammad bin Usamah, dari Mas’ar, dari Maan bin Abdul Rahman, dari Aun bin Abdullah, dari Utbah, dari Ibnu Mas’ud, mengatakan: “Ada seorang lelaki di Mesir sedang bercucuk tanam di kebunnya. Ketika itu dia sedang gelisah dan dia tunduk mengerjakan ladangnya. Ketika dia mengangkat kepalanya, tiba-tiba di melihat di hadapannya ada seorang lelaki sedang berdiri memperhatikan apa yang dilakukannya dan memandangi wajahnya. Lelaki itu

berkata kepadanya: “Kuperhatikan dari tadi engkau murung dan gelisah, mengapa begitu?” Lelaki yang bercucuk tanam itu berkata: “Tidak ada apa-apa.” Kemudian lelaki yang datang tadi berkata: “Dunia adalah kesenangan yang sedikit dan masanya amat terhad, dan kesenangan itu dinikmati oleh orang baik dan orang jahat. Sedangkan akhirat kesenangan yang hakiki dan abadi.” Mendengar yang demikian lelaki yang bercucuk tanam itu berkata: “Sebenarnya saya sedih memikirkan keadaan kaum muslimin sekarang ini. Orang yang datang itu berkata: “Allah SWT akan membebaskanmu dari kesusahan kerana engkau ambil-berat terhadap nasib kaum Muslimin. Cuba tanya siapakah orangnya yang meminta kepada Allah kemudian Allah tidak memenuhi permintaannya, siapakah orang yang doanya tidak terkabul? Siapakah yang berserah kepada Allah lalu Allah tidak melindunginya?” Mus’ir berkata: “Menurut mereka orang yang memberi pengajaran itu adalah Khidir.” .^ Kembali ke atas ^ Nabi Khidir datang ke Baitul Haram Berkata Abu Naim dalam kitab Al-Hilyah: “Bercerita kepada kami Ubaidullah bin Muhammad, dari Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Mansur, dari Ahmad bin Jamil, katanya berkata Sufyan bin Ainah: “Pada waktu saya tawaf di Baitullah, tiba-tiba saya melihat seorang yang sedang memimpin satu kumpulan manusia mengerjakan tawaf. Saya bersama orang yang berdiri di sekelilingku memperhatikan lelaki itu. Ada di antara mereka yang berkata: “Lelaki yang memimpin kumpulan yang tawaf itu nampaknya seorang yang ikhlas dan berilmu.” Kami amati dia bahkan kami ikuti ke mana dia pergi. Lelaki itu pergi ke maqam kemudian mengerjakan solat di situ. Selesai solat dia menadahkan kedua tangannya dan berdoa. Setelah itu dia melihat ke arah kami dan berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Aku adalah raja. Kamu mendakwa diri kamu sebagai raja.” Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah kiblat, menadahkan tangannya sebagai tanda berdoa kemudian berpaling kepada kami dan berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Akulah yang hidup dan tidak akan mati untuk selamanya. Kamu mendakwa diri kamu hidup dan tidak akan mati." Setelah itu dia menghadap ke arah kiblat dan mendoa. Selesai berdoa berpaling kepada kami sambil berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Akulah Tuhan yang apabila menghendaki sesuatu akan ada ia. Ada di antara kamu yang mengaku apabila menginginkan sesuatu akan ada.” Kata Ibnu Ainah lagi: “Kemudian dia pun pergi dan kami tidak melihatnya lagi. Setelah itu saya berjumpa dengan Sufyan As-Tsauri dan dia berkata: “Barangkali lelaki itu adalah Khidir atau wali Allah yang lain.”

Ada diceritakan ketika Hasan Basri berceramah di hadapan jemaahnya, tiba-tiba datang seseorang yang matanya kehijau-hijauan. Melihat yang demikian Hasan Basri bertanya kepadanya: “Apakah memang begini engkau dilahirkan oleh ibumu atau ini sebagai tanda?” Orang yang baru datang itu berkata: “Apakah sememangnya engkau kenal kepadaku wahai Abu Said?” Hasan Basri berkata: “Siapa engkau sebenarnya?” Lelaki itu memperkenalkan dirinya sehingga jelas bagi semua jemaah yang ada di tempat itu. Hasan Basri berkata lagi: “Tolong ceritakan bagaimana kisahmu.” Lelaki itu berkata: “Pernah pada suatu hari dahulu aku mengangkut semua barangbarangku ke dalam kapal. Aku pun berlayar menuju Cina. Ketika berlayar mengharungi lautan yang dalam, tiba-tiba angin bertiup kencang. Terjadi ombak yang begitu hebat dan kapal yang saya naiki pun terbalik. Rupanya ajalku belum tiba, aku dibawa oleh ombak ke pantai. Aku terdampar di satu pulau yang tidak didiami oleh manusia. Empat bulan lamanya aku keseorangan di pulau itu. Makanan tidak ada kecuali daun-daunan dan batang kayu yang lapuk. Bahkan minuman pun tidak ada kecuali air mata yang sentiasa mengalir kerana sedihnya. Tidak terdaya lagi menahankan hidup seperti itu sehingga aku sudah bermaksud berenang menyeberangi lautan yang luas itu. Ketika berjalan mendekati laut yang ombaknya melambai-lambai itu, tiba-tiba di hadapanku sudah ada istana yang pintunya seperti perak. Kubuka pintunya rupanya di dalam ada bilik-bilik dan beberapa ruang tamu yang lengkap dengan perhiasan. Di dalam istana itu juga ada beberapa buah peti yang dihiasi dengan permata. Aku buka salah satu peti itu. Aku dekati peti itu kemudian terasalah semerbak yang cukup harum. Aku buka perlahan-lahan, rupanya di dalam ada mayat yang masih segar seperti orang tidur. Aku tutup semula peti itu kemudian aku keluar dari istana itu. Sebaik sahaja turun dari tangga istana, aku berjumpa dengan dua orang pemuda kacak dan nampak ramah. Mereka bertanya siapa aku dan aku pun memberikan butir-butir peribadiku. Mereka berkata: “Pergilah ke pohon sana. Di bawah pohon itu ada taman yang indah. Dan di situ nanti ada orang tua yang sedang mengerjakan solat. Dia itu baik orangnya. Ceritakan dirimu dan keadaanmu kepadanya kemudian nanti dia akan menunjukkan jalan kepadamu.” Aku pun pergi ke pohon yang mereka tunjukkan itu. Memang benar, di bawahnya ada seorang lelaki tua sedang duduk berzikir. Aku ucapkan salam kepadanya kemudian dia pun menjawabnya. Dia tanya siapa diriku kemudian aku pun menerangkannya. Dia tanya mengapa aku sampai di tempat itu kemudian aku ceritakan semuanya. Lelaki itu terdiam sejenak merenungkannya. Dia tanya mengapa aku sampai di tempat itu kemudian aku ceritakan semuanya. Lelaki itu terdiam sejenak merenungkan perjalananku dan macam-macam yang aku lihat sebelumnya. Dia tanya lagi di mana kampungku kemudian aku ceritakan. Kemudian lelaki itu berkata: “Kalau begitu duduklah dahulu.”

Aku duduk sahaja memperhatikan lelaki itu. Tidak lama kemudian datanglah tumpukan awan mendekati beliau. Anehnya awan itu sanggup berkata seperti manusia dengan ucapan: “Assalamu Alaikum ya wali Allah.” Beliau menjawab salam awan itu kemudian awan itu pun berhenti di hadapan beliau. Beliau bertanya kepada awan itu: “Ke mana engkau mahu pergi?” Awan itu menjawab: “Aku mahu pergi ke kampung ini dan kampung ini.” Kemudian awan itu pun pergi seperti ditiup angin. Datang lagi awan-awan yang lain dan kesemuanya berhenti di depan beliau. Beliau bertanya lagi kepada awan yang datang kemudian: “Ke mana engkau mau pergi?” Awan itu menjawab: “Saya mahu pergi ke Basrah.” Beliau berkata: “Kalau begitu turun dahulu.” Awan itu turun dan berhenti di hadapan beliau. Beliau berkata: “Bawa orang ini ke depan rumahnya dengan selamat.” Nampaknya awan itu sudah siap untuk mengangkut saya. Sebelum berangkat, saya bertanya kepada orang tua itu: “Demi Tuhan yang telah memuliakan engkau, tolong ceritakan kepadaku apa itu istana tadi, siapa dua orang pemuda itu dan siapa engkau.” Orang tua itu berkata: “Istana yang engkau lihat tadi adalah tempat para syuhada yang gugur di laut. Orang-orang yang mati syahid di laut telah diangkut oleh malaikat. Mayat para syuhada itu mereka masukkan ke dalam peti yang dihiasi dengan emas dan permata, disembur dengan wangi-wangian dan mereka masukkan (simpan) di dalam istana seperti yang engkau lihat tadi. Dua orang pemuda tampan yang engkau jumpai tadi adalah malaikat yang disuruh Allah untuk menguruskan mereka pada waktu pagi dan petang. Sedangkan aku ini adalah Khidir. Aku dahulu ada memohon kepada Allah supaya mengumpulkan atau menggabungkan aku dengan umat nabi kamu Muhammad SAW.” Lelaki yang dibawa awan dan datang menjumpai Hasan Basri itu berkata lagi: “Sewaktu terbang bersama awan, aku terperanjat kerana melihat sesuatu yang mengejutkan. Dan itulah sebabnya mataku seperti yang engkau lihat ini.” Mendengar yang demikian Hasan Basri berkata: “Sungguh mengagumkan pengalaman hidupmu.” Menurut satu riwayat, Raja Sulaiman bin Abdul Malik telah menyuruh menterinya menangkap seorang lelaki yang sangat dikehendaki untuk dibunuh. Sebaik sahaja mengetahui perintah raja itu, lelaki yang dicari tadi segera melarikan diri. Lelaki itu lari ke kampung lain. Di kampung itu dia mendengar berita hangat bahawa orang bernama ini disuruh tangkap untuk dibunuh. Dia semakin ketakutan kemudian lari lagi ke kampung lain. Di kampung itu pun rupanya sudah gempar berita itu yang menyebabkan dia lari lagi ke kampung lain. Begitulah yang dia dengar setiap pergi ke satu kampung. Akhirnya dia terfikir untuk lari ke negeri di luar kekuasaan Sulaiman bin Abdul Malik.

Sekarang dia sudah sampai di satu padang pasir yang amat luas, yakni di tempat itu tidak ada pokok yang tumbuh, tidak ada air dan makanan apapun, bahkan nampaknya tempat itu adalah tanah yang tidak pernah diinjak oleh manusia. Di situ dia melihat seorang lelaki tengah mengerjakan solat. Dia pandang di sekeliling orang yang solat itu, ternyata tidak ada tunggangan, tidak ada bekalan dan sebagainya. Dia begitu hairan melihat lelaki itu mengapa berada seorang diri di tempat itu. Dia ingin mendekati lelaki itu tetapi tidak jadi kerana ketakutan. Hatinya bertanya: “Ini manusia atau jin ini.” Dia beranikan dirinya untuk mendekati lelaki itu. Kemudian lelaki itu memandang ke arahnya dan berkata: “Barangkali Sulaiman bin Abdul Malik yang membuatmu ketakutan sehingga tersesat ke tempat ini.” Dia berkata: “Betul tuan.” Lelaki itu berkata: “Mengapa tidak engkau buat pendinding dirimu?” Dia bertanya: “Pendinding apa maksudnya?” Lelaki itu berkata: “Bacalah zikir seperti ini (yang maksudnya): Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Esa yang tidak ada Tuhan selain-Nya. Maha Suci (Tuhan) Yang Maha terdahulu dan tidak ada yang menjadikan-Nya. Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Kekal dan tidak akan binasa. Maha Suci (Tuhan) Yang Dia setiap hari dalam kesibukan. Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Maha Suci (Tuhan) yang telah menciptakan apa yang dilihat dan tidak kelihatan. Maha Suci (Tuhan) yang mengajari segala sesuatu tanpa pengajaran secara langsung. Dalam zikir di atas ada dinyatakan bahawa Allah setiap hari atau waktu berada dalam kesibukan. Ini sebenarnya ada ditemui di dalam Quran, iaitu ayat yang mengatakan: Setiap waktu Dia (Allah) dalam kesibukan. (Al-Rahman: 29) Maksudnya Allah SWT sentiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezeki kepada semua makhluk dan sebagainya. Orang itu berkata: “Bacalah zikir ini.” Lelaki itu berkata: “Maka saya pun menghafal zikir itu dan membacanya. Tiba-tiba lelaki itu sudah menghilang dan tidak nampak lagi. Tetapi berkat amalan itu, perasaan takut sudah hilang dari diriku. Aku sudah bermaksud pulang ke kampungku menjumpai keluargaku, bahkan aku ingin pergi menjumpai Sulaiman bin Abdul Malik. Pada suatu hari, yang mana rakyat jelata dibolehkan berjumpa dengannya, saya pun masuk ke istananya. Sebaik sahaja saya masuk ke ruang tamunya, dia memandangiku seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Dia mendekati aku kemudian berkata: “Engkau telah menyihir aku.” Saya jawab dengan tenang: “Wahai Amirul Mukminin, saya tidak ada mengguna-guna tuan. Saya tidak pernah belajar ilmu sihir dan saya tidak ada menyihir tuan.” Sulaiman bin Abdul Malik menerangkan apa yang ada dalam hatinya secara jujur: “Dulu aku begitu marah melihat engkau. Aku sudah bertekad akan membunuh engkau. Rasanya kerajaanku ini tidak sempurna kalau tidak membunuh engkau. Tetapi setelah melihat wajahmu tadi, aku begitu sayang kepada engkau. Sekarang ceritakan secara jujur apa

yang engkau amalkan itu. Dia pun menyebutkan zikir tadi. Mendengar yang demikian Sulaiman bin Abdul Malik berkata: “Demi Allah Khidirlah yang mengajarkan amalan itu kepadamu.” Akhirnya raja memaafkan segala kesalahannya dan menyayanginya. ^ Kembali ke atas ^ Amalan yang paling disukai Allah Dari Raja’, beliau berkata: “Pernah pada suatu hari ketika saya berada di samping Sulaiman bin Abdul Malik, tiba-tiba datang seorang lelaki tampan. Lelaki itu memberi salam kemudian kami jawab. Kemudian dia berkata: “Wahai Raja’, sesungguhnya telah diuji keimananmu ketika engkau dekat dengan lelaki ini (Raja Sulaiman). Kalau engkau dekat dengan dia, maka engkau akan celaka. Wahai Raja’, engkau mesti sentiasa berbuat baik dan menolong orang-orang lemah. Ketahuilah wahai Raja’, sesiapa yang mempunyai kedudukan di kerajaan sultan, lalu dia mengangkat hajat orang-orang lemah yang mereka tidak sanggup menyampaikannya, maka orang yang mengangkat atau menyampaikan itu akan menjumpai Allah pada hari kiamat dalam keadaan kedua tumitnya tetap ketika berhisab. Ketahuilah wahai Raja’ bahawa sesiapa yang menunaikan hajat saudaranya sesama muslim maka Allah akan menunaikan hajatnya. Dan ketahuilah wahai Raja’ bahawa amalan yang paling disukai Allah ialah amalan menyenangkan hati orang mukmin.” Setelah memberikan pengajaran yang bernas itu, tiba-tiba lelaki itu sudah menghilang. Ramai yang berpendapat bahawa yang datang memberikan pengajaran itu ialah Nabi Khidir. Mas’ab bin Thabit bin Abdullah bin Zubair adalah seorang yang rajin beribadat. Dia selalu berpuasa dan mengerjakan solat tidak kurang dari seribu rakaat sehari semalam. Dia ada berkata: “Pernah ketika aku berada di dalam masjid sedangkan orang semuanya sudah pulang, ke rumah masing-masing, tiba-tiba datang seorang lelaki yang tidak saya kenal. Lelaki itu menyandarkan badannya ke dinding masjid sambil berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahawa aku berpuasa sejak kelmarin. Sampai sekarang pun aku masih berpuasa. Aku tidak mendapatkan makanan dan minuman dan aku menginginkan al-Tharid (nama makanan). Berikanlah kepadaku ya Allah makanan dari sisi Engkau.” “Tiba-tiba saya melihat seorang pelayan datang membawa hidangan. Pelayan itu nampaknya tidak seperti orang biasa. Orangnya tampan, bersih dan pakaiannya kemas. Dia berjalan ke arah lelaki yang berdoa tadi sambil meletakkan hidangan itu di hadapannya. Lelaki itu pun membetulkan duduknya menghadap hidangan itu. Sebelum mencicipi makanan itu dia memandang saya dan mengajak saya supaya ikut makan bersamanya. Hatiku berkata: “Syukur dia mengajak saya makan bersama.” Ketika itu saya yakin makanan itu didatangkan dari syurga sehingga saya pun ingin betul mencuba. Baru sedikit saya cuba tahulah saya bahawa makanan itu bukan makanan yang biasa di dunia ini.

Sebenarnya saya merasa segan dan malu kepada orang yang tidak saya kenal itu. Belum lagi kenyang rasa perutku saya sudah mengucapkan terima kasih dan pergi ke tempatku semula tadi. Tetapi saya masih terus memperhatikan lelaki itu. Setelah dia selesai makan, datang lagi pelayan tadi mengambil hidangan itu. Dia pergi lagi ke arah tempat datang tadi. Lelaki yang baru selesai makan itu pun sudah berdiri dan nampak pergi. Aku kejar dia kerana ingin tahu siapa dia sebenarnya. Tetapi malangnya dia tiba-tiba saja menghilang dan saya tidak tahu ke mana perginya. Besar kemungkinan lelaki itu adalah Nabi Khidir.” Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, dari Ibrahim bin Abdullah bin Al-Mughirah, dari Abdullah, berkata: “Telah bercerita kepadaku ayahku bahawa pengurus sebuah masjid berkata kepada Walid bin Abdul Malik: “Sesungguhnya Nabi Khidir sembahyang setiap malam di masjid.” Dari Daud bin Yahya, katanya bercerita seorang lelaki yang selalu berada di Baitul Maqdis: “Pada waktu saya berjalan di salah satu lembah di Jordan, saya melihat di lembah bukit itu ada orang yang sedang mengerjakan solat. Saya lihat di atasnya ada awan yang melindunginya daripada panas matahari. Menurut tekaanku lelaki itu adalah Nabi Ilyas. Saya dekati dia kemudian kuucapkan salam kepadanya. Dia berpaling kepadaku sambil menjawab salamku. Aku tanya: “Siapa anda sebenarnya wahai orang yang dirahmati Allah?” Dia diam sahaja dan tidak menjawab soalanku. Kutanya lagi seperti soalan pertama kemudian dia menjawab: “Aku adalah Ilyas An-Nabi.” Tiba-tiba sahaja merinding bulu romaku. Aku gementar, dan yang paling kutakutkan dia menghilang sebelum saya sempat menanyakan itu dan ini. Aku berkata kepadanya: “Tolong doakan supaya Allah menghilangkan penyakitku ini." Dia pun berdoa. Tiba-tiba penyakitku terasa sudah sembuh. Aku tanya lagi: “Kepada siapa tuan diutus?” Beliau menjawab: “Aku diutus kepada penduduk Baklabakka.” Kutanya lagi: “Apakah sekarang ini tuan masih ada menerima wahyu?” Beliau menjawab: “Bukankah sudah diutus Muhammad sebagai nabi penutup? Aku tidak ada menerima wahyu lagi.” Katanya lagi: “Kalau begitu berapa lagi nabi yang masih hidup sekarang ini?” Beliau menjawab: “Sekarang ada empat orang lagi nabi yang masih hidup, iaitu saya sendiri (Ilyas), Khidir di bumi (darat), dan Nabi Idris bersama nabi Isa di langit.” Kutanya lagi: “Apakah tuan pernah berjumpa dengan Nabi Khidir?” Beliau menjawab” “Ya, setiap tahun kami berjumpa di padang Arafah, yakni pada musim haji.” Kutanya: “Apa yang kamu lakukan jika berjumpa di sana?” Beliau menjawab: “Aku ambil rambutnya kemudian dia pun mengambil (mencukur rambutku).” Kutanya lagi: “Berapa orang lagi Al-Abdal (Wali Allah yang lain)?” Beliau menjawab: “Ada 60 orang lelaki. 50 orang berada di kawasan Mesir sampai pantai Furat, 2 orang di Masisah, 1 orang di Antokiah dan 7 orang di pelbagai penjuru dunia. Merekalah yang

mengatur hujan dan mereka yang menolong untuk mengalahkan musuh Allah, bahkan di tangan mereka berdirinya dunia ini, dia matikan mereka semua supaya dunia ini pun hancur.” Ini menurut satu pendapat sangat tidak sahih. ^ Kembali ke atas ^ Nabi Khidir mengubati dengan Asmaul Husna Berkata Abul Hasan bin Al-Munadi: “Bercerita kepada kami Ahmad bin Mulaib, dari Yahya bin Said, dari Abu Jakfar Al-Kufi, dari Abu Umar Al-Nasibiy, berkata: “Aku pergi mencari Maslamah bin Masqalah di Syam. Ramai yang mengatakan Maslamah termasuk wali Allah juga. Setelah berusaha mencarinya, saya menjumpainya di salah satu lembah di Jordan. Beliau berkata kepadaku: “Mahukah engkau kuceritakan kepadamu tentang apa yang kulihat tadi di lembah bukit ini?” Kujawab: “Tentu aku ingin mendengarnya.” Beliau berkata: “Ketika saya datang tadi ke lembah ini, saya melihat seorang syekh yang sedang mengerjakan solat di bawah pokok itu. Besar kemungkinan lelaki itu adalah Nabi Ilyas. Aku berjalan mendekatinya kemudian memberi salam kepadanya sekalipun dia sedang mengerjakan solat. Saya lihat dia rukuk, kemudian iktidal, dan kemudian sujud.Selesai solat dia memandang ke arah suaraku datang kemudian menjawab salamku setelah melihat aku berdiri di situ. Aku tanya dia: “Siapakah engkau wahai orang yang dirahmati Allah.” Dia menjawab : “Aku adalah Ilyas Al-Nabi.” Aku begitu gugup mendengar kata-katanya itu.Dia datang mendekati aku. Dia letakkan tangannya di dadaku sehingga aku merasakan kesejukan tangannya. Aku berkata kepadanya: “Wahai nabi Allah, doakanlah supaya Allah menghilangkan penyakitku ini.” Kemudian beliau pun berdoa dengan menggunakan nama Allah, lima di antaranya dalam bahasa Arab dan tiga lagi dalam bahasa Siryani. Beliau membaca: “Ya Wahid, Ya Ahad, Ya Somad, Ya Fardun, Ya Witrun. Beliau menyebut tiga potong perkataan lagi yang saya sendiri tidak tahu maknanya. Kemudian beliau menarik tanganku sambil mendudukkan aku.Ketika itu rasanya penyakitku sudah hilang. Aku bertanya kepadanya: “Wahai nabi Allah, Bagaimana pendapatmu tentang orang ini (saya sebutkan Mirwan bin Muhammad), yang ketika itu menahan beberapa orang ulama. Beliau berkata: “Bagaimana hubungan kamu ?” Aku menjawab “Wahai nabi Allah kalau aku berjumpa dengannya dia berpaling. Dia tidak memberi sebarang komen. Aku bertanya lagi: “Wahai nabi Allah,apakah sekarang ini masih ada di dunia ini AlAbdal. (wali-wali Allah)?Beliau menjawab:”Ada” Mereka semua ada sebanyak 60 orang. 50 orang di kawasan Mesir sampai pantai Furat, 3 orang di Masisah, 1 orang di Antokiah dan yang lainnya di daerah Arab lainnya.”

Aku bertanya lagi:”Wahai nabi Allah, Apakah tuan ada berjumpa dengan nabi Khidir?” Beliau menjawab “Ya setiap musim haji kami berjumpa di Mina.” Aku bertanya: Apa yang kamu lakukan jika berjumpa?” Beliau menjawab: “Aku mengambil rambutnya dan dia pun mengambil rambutku.” Aku berkata kepadanya: “Wahai nabi Allah. sebenarnya saya ini adalah orang yang hidup sebatang kara, tidak mempunyai isteri dan anak. Kalau tuan bersetuju biarlah saya ikut bersama tuan ke mana sahaja tuan pergi.” Beliau menjawab: Engkau tidak sanggup berteman denganku.” Ketika bercerita dengan beliau tiba-tiba aku melihat satu hidangan makanan keluar dari akar pohon itu kemudian diletakkan di hadapan beliau. Sementara orang yang mengangkatnya tidak kelihatan. Dalam hidangan itu ada tiga ketul roti. Beliau sudah menghulurkan tangannya untuk makan makanan itu. Tetapi tiba-tiba beliau belum jadi memakannya dan beliau mengajak aku supaya sama-sama makan. Saya duduk di sebelah beliau, kemudian beliau berkata kepadaku: “Mulailah dengan Bismillah dan ambilah dari yang terdekat kepadamu “Kami pun memakannya bersamasama. Selepas makan saya lihat jelas dulang itu diangkat lagi tetapi tidak kelihatan orang yang mengangkatnya. Kemudian didatangkan lagi kepada beliau minuman tetapi tidak kelihatan orang yang membawanya. Beliau membagi dua minuman itu, separuh beliau minum dan separuh lagi beliau serahkan kepadaku. Saya cuba minuman itu, oh rasanya cukup lazat. Minuman itu lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Selesai minum saya letakkan tempatnya. Tiba-tiba saya lihat terangkat lagi tetapi tidak tahu siapa mengangkatnya. Kemudian beliau memandang ke bawah (tempat yang lebih rendah lagi), rupanya di situ sudah ada binatang menunggu yang lengkap dengan tempat duduknya. Binatang itu lebih besar dari keldai dan tidak sampai sebesar baghal. Beliau berjalan ke arah tunggangan itu. Aku kejar beliau dan aku minta supaya ikut bersamanya. Tetapi beliau berkata: “Bukankah sudah aku katakan bahawa engkau tidak sanggup mengikuti perjalananku?” Saya merasa kecewa dan hanya mampu berkata: “ Kalau begitu bagaimana caranya supaya saya berjumpa lagi dengan tuan?” Beliau menjawab: “ Kalau betul-betul ingin berjumpa denganku, kita akan berjumpa lagi nanti.” Tambah beliau lagi: “Semoga engkau dapat menjumpai aku lagi nanti pada bulan Ramadhan di Baitul Maqdis dalam keadaan iktikaf.” Beliau pergi ke bawah pohon dan aku ikuti dari belakang tetapi tiba-tiba beliau menghilang.” ^ Kembali ke atas ^

Dipetik Dari Buku: Kisah Nabi Khidir a.s. Pengarang: Al-Hafiz Ibnu Hajar al Asqalaniy.

________________________________________________________________________ _________ Kisah Nabi Khidr Dan Iskandar dzulkarnain

DI SEBALIK KISAH RAJA ISKANDAR DZUL QARNAIN MASUK KE TEMPAT GELAP

Pada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi*, Allah mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa'il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat Rofa'il: "Wahai malaikat Rofa'il ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit", malaikat Rofa'il berkata, "Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya".

Kemudian raja berkata, "Alanglah senangnya seandainya aku hidup bertahuntahun dalam beribadah kepada Allah". Lalu malaikat Rofa'il berkata, "Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya 'Ainul Hayat' yang bererti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan". Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa'il, "Apakah kau tahu tempat "Ainun Hayat itu?". mailaikat Rofa'il menjawab, "Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap". Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa'il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan 'Alim Ulama' pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu tetapi mereka menjawab, "Kita tidak tahu khabranya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, "Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam As, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap". "Di manakah tempat bumi gelap itu?" tanya raja. Seorang yang alim menjawab, "Di tempat keluarnya matahari".

Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. "Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap?". Para sahabat menjawab, "Kuda betina yang perawan". Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tenteranya yang seramai 6000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.

Di antara mereka adalah Nabi Khidir As, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir berjalan di depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat. Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam. Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya berkata kepada raja."Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya." Lalu Raja berkata: " Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak." Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: " Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian". Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa'il: " Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita?". "Tidak bisa kelihatan",jawab malaikat Rofa'il," akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan-kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian."

Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir As.

Di saat mereka berjalan, maka Allah memberi wahyu keapda Nabi Khidlir As," Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu". Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian." Kemudian beliau berjalan menuju kesebelah kanan jurang, maka dapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir As turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke "Ainul Hayat" (sumber air hidup) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air hidup tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi Khidlir As. tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.

(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa Nabi Khidlir As. adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa'il: "Gemercik ini adalah suara

benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga." Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah yakut yang berwarna merah dan jamberut yang berwarna hijau, maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal.
Diriwayatkan oleh Ats-tsa ' Labi dari Iman Ali Rodliayllohu ' anhu. 1. Cerita ini dikutib dari kitab "Baidai'iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 - 168 Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang

11. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 - 258.

SIAPA NABI KHIDIR?
1. Khidir adalah seorang anak cucu Nabi Adam yang taat beribadah kepada Allah dan ditangguhkan ajalnya. (Kitab Al Ifrad karya Daruquthani dan Ibnu Asakir riwayat Ibnu Abbas. 2. Ibu Khidir berasal dari Romowi sedangkan bapaknya keturunan bangsa Parsi. (Fathul Bari juz v1, halaman 310, Al Bidayah Wan Nihayah juz 1 hal 326 Ruhul Ma'ani juz xv hal 319). 3. Kata Al Alusi, "Aku tidak membenarkan semua sumber yang menyatakan tentang riwayat asal-usul Khidir. Tetapi An Nawawi menyebutkan bahawa Khidir adalah putera raja". (Fathul Bari juz v1 hal 390. 4. Riwayat lain mengisahkan bahawa Khidir itu anak Firaun. Wallahu a'lam bisshowab. (Tahdziebul Asma Wal Lughaat, juz 1 hal 177).

HIDUP ATAU MATI?
1. Kalangan Ulama beranggapan bahawa Khidir masih hidup. Pendapat ini tidak ditentang oleh kaum sufi dan ahli makrifat. Mereka sering berbincang tentang pengalaman bertemu, bercakap-cakap dengannya.

2. Banyak Ulama yang menpunyai dalil bukti tentang hidupnya Khidir sampai sekarang. (Syareah Muhaddzab An Nawawi juz v hal 305). 3. Abu Ishaq At Tsa'alibi berkata, "Bahawa Khidir tidak akan mati sampai akhir zaman nanti". (Tahdzibul Asma' Wal Lughat juz 1 hal 177, Fathul Bari juz v1 hal 310). 4. Ibrahim Al Harbi ditanya tentang hidupnya Khidir lalu menjawab, "Barangsiapa yang berkata mustahil terhadap masalah yang tidak diketahuinya, maka ia adalah syaitan yang berwujud manusia". (Rahul Ma'ani juz xv hal 320).
Dari buku KHIDLIR - Nabi atau Wali? Hidup atau Mati?Dialog dengan Nabi Hkidir Karya KH JAMALUDDIN KAFIE Penerbit PT. GAROEDA BUANA INDAH - INDONESIA. Gambar/ilustrasi sekadar hiasan. Photo/illustration for display purposes. http://sheikhmustafakamal.blogspot.com/2008/10/kisah-raja-iskandar-dzul-qarnain-masuk.html http://salafytobat.wordpress.com Read More..

KITAB SERIBU CERMIN



Inilah kitab cermin seribu
Seribu kitab cermin
Cermin seribu kitab
Juga cermin kitab seribu
Cermin dipecah adalah cermin
Cermin direkat adalah cermin
Saat dibubuk menjadi pasir
Demikianlah kita harus bercermin

Pada pasir
Remuk
Adalah
Sempurna

Kolam indah menjadi cermin
Meluangkan wajah yang bergoyang
Kenyataan memang harus bergoyang
Sebelum diguncang
Tidak ada benar dan salah yang abadi
Yang abadi adalah ketiadaan yang tiada
juga

Kekuasaan yang menimbulkan kesalahan
dan kebenaran
Hanya berumur sebersit
Kekuasaan harus dibasmi
Dibasmi karena ada kebenaran
Kebenaran berawal dari kekuasaan
Berakhir dengan kekuasaan
Berkuasa dengan nafsu
Dan berakhir dengan nafsu
Yang melawan nafsu adalah nafsu
Yang kalah oleh nafsu adalah nafsu
Yang ribut dengan nafsu
Ribut saja ndiri.....

Kuda hitam bukan kuda hitam
Ia adalah bukan kuda
Ia adalah bukan hitam
Ia adalah bukan ia
Dan yang bukan ia adalah mungkin ia

Kuda adalah tipuan
Seperti troya pernah tertipu
Kebenaran pun adalah tipuan
Seperti kita selalu tertipu

Kita sang kota troya
Selalu tertipu oleh kebenaran dan kuda
Segala yang bisa dianggap mungkin

Jangan dianggap benar
Yang dianggap benar
Pastilah hanya kemungkinan
Cahaya bukan cahaya
Ia adalah tipuan dari kegelapan
Kegelapan bukanlah kegelapan
Ia adalah tipuan dari cahaya
Cahaya dan kegelapan selalu menipu
Maka hiduplah dalam keremangan

Pagi dan petang
Kabar dari langit
Kabar dari dewa
Kabar dari tuhan
Semesta adalah hukuman
Kabar dari kesalahan
Kabar dari norma
Segala kubur mereka yang disucikan
Oleh norma dan kemenangan
Semua ada batasnya
Hanya sesaat setelah sejarah terlupa
Zaman dilindas oleh alam
Yang tak mengenal dirinya sendiri sebagai
alam
Alam bukan alam
Karena ia tak menyebutnya demikian
Ia adalah akhirat
Yang bersembunyi dalam perubahan
Semoga kebohongan bisa membuat orangorang
tertawa
Dalam kemengertian
Karena kebohongan yang diangap berhasil
Selalu membuat kagum dan takluk
Bukan tawa
Yang kecil
Adalah yang seharusnya menjadi dasar
Yang puncak
Semestinya adalah raksasa
Demikianlah agar struktur itu terguling
Dengan sendirinya
Raja dan presiden
Semuanya lalim
Karena ia menjadi nama
Yang bernamalah
Yang lalim
Yang tak bernama
Dialah yang dilalimi
Yang bernama
Tak layak disembah
Yang tak bernama
Hanya menyembah dirinya sendiri
Yang menyembah diri sendiri
Menyembah kesedihan
Yang menyembah mereka yang bernama
Adalah yang selalu mencari gembira
Mencari gembira
Pura-pura sedih
Pura-pura tergantung
Pada kehendak yang raksasa
Pura-pura
Sedemikian sedihnya
Tak ada kabar
Dari kehidupan
Tak ada kehidupan yang menuntut
kehidupan
Hanya kematian yang menuntut kehidupan
Demikianlah kebenaran
Menuntut kesalahan
Dan dari semuanya
Kesalahan mengalir
Seperti anak sungai
Seperti ular
Yang meninabobokkan penguasa tunggal
Kekuasaan tunggal
Semestinya menjadi lalim
Segala yang lalim
Semestinya disanggah
Sanggahlah mereka yang lalim
Siapakah yang lalim?
Mengapa kekuasaan selalu lalim?
Segala yang lalim akan menjadi berkuasa
Segala yang berkuasa akan menjadi lalim
Kenapa kenyataan ini tak anda ketahui
semua?
Kenapa kelaliman dan kekuasaan adalah
seperti telur dan ayam?
Di dalamnya terdapat dasar dari kehidupan
Tetapi kehidupan yang mati
Kehidupan yang mati membutuhklan
kematian-kematian
Demikianlah kebenaran bertahan hidup
Seperti drakula
Para mangsa dan budak seperti zombi
Zombie yang masih berdarah
Dan menyerah
Apakah menyerah berarti kalah?
Agaknya kekalahan adalah sebuah peristiwa
lazim
Karena diantara pembunuh
Pasti ada mangsa yang pasrah untuk
dibunuh
Di manakah cinta?
Di dalam batin
Di dalam kasih sayang
Di antara kebuasan
Di mana ada kebencian?
Di antara benci
Kebuasaan
Dan kelemahlembutan
Adalah inti
Ada
Di dalam gerak
Di mana ada gerak?
Dalam ketidakmengertian yang mendalam
dan asli
Apakah keaslian?
Keaslian mungkin tidak ada
Hanya yang bukan asli
Yang bisa kita sebut
Dan kenali
Apakah ketidakaslian
Kebohongan
Keburukan
Kejahatan
Bisa diketahui?
Tidak
Hanya dengan menyebutkan kesedihan dan
kegembiraan
Segala yang membuatnya
Adalah mereka
Demikianlah segala sesuatu adalah
kebusukan?
Tidak
Karena siapa yang bisa menyebutkan
seluruh dunia?
Dan menyebutkan segala sesuatu yang
sudah usang
Adalah bukan asli?
Bahasa adalah keusangan yang setiap kali
asli
Setiap kali adalah kebohongan
Tak ada maaf bagi keaslian
Tuhan,
Sambutlah namaku
Dalam hatiku
Masih ingatkah kau akan namaku?
Apakah sering kau menyebut diriku?
Jika engkau pelupa
Atau sibuk?
Kenapa tak kau akui ?
Kekuasaan adalah lupa
Yang berkuasa selalu lupa
Pasti lupa
Kekuasaan adalah lupa
Kebenaran berarti kekuasaan
Disanalah keduanya saling membelit
Dan semuanya adalah palsu
Palsukanlah sebaai keaslian
Di sana segalanya bisa dijual
Demi perut yang lapar
Dan hati yang emar akan harta dan
kekuasaan
Tak ada gunanya berdebat untuk kebenaran
Kebenaran sudah usang
Seperti kain yang baru disulam
Oleh seribu bidadari
Keindahan adalah usang
Keburukan adalah yang bagus
Dan indah
Dan hebat
Dan perlu dicamkan dalam hati
Hati yang dimabuk oleh derma
Yang membuat pertapaan menjadi bencana
Di dalam perut ada kotoran
Di dalam otak ada kotoran
Dalam doa pun ada kotoran
Dalam kesucian
Kotoran menumpuk
Menjadi kesucian
Kesucian dicari
Kesucian berlalu
Kesucian bertalu-talu
Kebenaran dan kekucian
Demikianlah kekuasaan
Kekuasaan berarti kematian bagi yang lain
Tak layak untuk dibantah
Demikianlah dunia
Tak layak untuk disanggah
Demikianlah sejarah
Tak pernah tertidur
Berjuang melawan alam
Alam semesta seperti mandiri
Dan manusia juga seperti mandiri
Dan tuhan juga seperti tidak ada
Benarkah demikian?
Tanyakanlah pada keutuhan dan kesedihan
kalian
Pasti jawaan akan lain
Dengan kewajaran
Kewajaran
Seperti anak-anak
Yang bertanya
Apakah ini apakah itu
Tetapi semuanya adalah proses belajar
Untuk mengenal bentuk-bentuk
Mengenal bayangan-bayangan
Mengenal cermin-cermin
Inilah kitab cermin
Seribu cermin
Karena satu serupa dengan seribu
Marilah saling berbantah
Marilah saling bertempur
Marilah saling menyalahkan
Maka anda akan menjadi ada
Ada karena ketiadaan
Ketiadaan karena ketiadaan tiada
Adalah yang hanya ada
Demi kata-kata pujian
Bangsat mana yang mencintai kentut?
Mereka yang bersyair dengan merdu
Mencari angkasa raya
Yang luarbiasa bening
Demikianlah juga kentut
Juga bening
Semestinya angkasa belajar dari angkasa
kecil itu
Yang bukan bangsat
Mencintai kentut
Yang bangsat
Tidak mencintai kentut
Robohlah segala kuil-kuil
Yang ada di luar
Maupun di dalam hati
Robohlah kebenaran
Dan keadilan
Dan juga kasih sayang
Robohlah juga mereka yang menentang
ketidakadilan
Siapa yang tidak akan roboh?
Segala mahluk pasti akan roboh
Bahkan yang abadi pun
Pasti akan roboh
Kepastian
Siapa yang bisa mendua?
Kepastian
Hanya milik mereka
Yang tidak mengenal duka
Siapa yang tak mengenal duka
Tak akan menjadi bijaksana
Bagaimana mengenal duka?
Rasakanlah duka
Rusaklah segala yang bisa dirusak
Peliharalah kerusakan
Mengapa kerusakan adalah bukan
kerusakan?
Siapa yang tidak peduli?
Atau peduli?
Kita mestinya percaya
Tak ada yang benar-benar penuh
Atau kosong
Tiada yang penuh
Tiada yang kosong
Tiada yang separuh-separuh
Atau hanya sedikit
Bahkan banyak
Tiada yang jelas
Dan pasti
Atau tetap
Inilah kitab cermin
Yang tanpa cermin
Karena cermin yang memantulkan sesuatu
Adalah bukan cermin
Ribuan nyawa
Berlalu dalam perang
Ribuan cinta
Berkumandang dalam perang
Tertawa bergelak-gelak
Mencari mayat-mayat
Saudara dan lawan
Demikianlah perang bermula
Dan berakhir
Dalam mula
Robohlah kata-kata
Robohlah makna
Robohlah kenyataan
Dan bayangan
Burung-burung kecil
Terbang dalam badai
Bernyanyi riang
Walau nyawa hanya sebersit kecil
Demikianlah juga manusia
Berlalu lalang dalam kendaraannya
Menentang alam
Seperti badai
Dalam sebersit nyawa
Tuntutlah ilmu sampai ke dalam dirimu
sendiri
Dapatkan pengetahuan hingga ke kerak
neraka
Dapatkan nafsumu menggelegak
Itulah jatidirimu
Dari abu ke abu
Dari kosong ke kosong
Dari isi ke isi
Tapi tak ada yang asli
Air suci dicampur kencing
Adalah bukan air kencing yang tidak suci
Air kencing suci dicampur air biasa
Adalah bukan air biasa yang suci
Biarkan tai bercampur dengan emas
Ketika menjadi pusaka
Adalah beban bagi surga
Biarkan surga dan neraka saling berbagi
wilayah
Surga milik neraka adalah neraka yang
tidak indah
Neraka yang indah adalah milik surga
Yang menurun kualitasnya
Janji-janji ditepati
Oleh manusia
Dewa
Setan
Dan semua jenis siluman
Karma dan nasib
Dibagikan secara rata
Oleh tuhan
Dengan cara memejamkan mata
Sudut hari terlupa
Huru hara
Subuh
Dingin
Memikat kematian
Rombongan malaikat maut
Menaiki roda-roda nasib
Bekerja sesuai pesan
Mencari korban
Demikianlah kenyataan
Dibayangkan
Zombie yang percaya
Biarlah menjadi zombie yang percaya
Zombie yang tidak percaya
Tidak lagi menjadi zombie
Bagaimana cara orang bisa membela
kemanusiaan?
Dengan nyawanya
Dengan kekerasan
Dengan membantai musuhnya
Runtuhlah semua peradaban
Runtuhlah semua keyakinan
Peradaban hanyalah keyakinan
Putih bukanlah putih
Roda ajaran
Memutuskan tali nasib
Menjadikannya mandiri
Dan dunia pun tetap tertawa
Dalam tangis
Menangislah wahai burung-burung bebas
Tertawalah ayam-ayam dalam sangkar
Cobalah membunuh diri kalian
Seperti manusia
Siapa yang bisa menafikan mimpinya
Adalah yang agung
Yang agung
Adalah penafi kenyataan
Kekayaan dalam perutmu
Kekuasaan dalam kepalamu
Tentara dalam hatimu
Rakyat dalam taimu
Coba renungkan
Satu ditambah satu adalah dua
Dua dikurangi satu adalah satu
Apel satu dimakan dua
Menjadi dosa asal
Manusia memang berdosa
Karena ia punya iman
Maka berimanlah
Agar kamu ingat akan neraka
Dengan ingat neraka
Maka neraka ada
Terjerumuslah sebagian di antara kalian
Di dalamnya
Oh berkuasalah para raja
Hiduplah selamanya para kaisar
Jayalah para mullah
Biarkan dunia runtuh
Menjadi debu
Agar kita bisa bercermin
Menemukan luka
Yang asli
Dari diri
Di luar ada dalam
Di dalam ada luar
Di tengah ada pinggir
Di pinggir ada tengah
Di atas ada bawah
Di bawah ada atas
Bergeraklah diam
Diamlah gerak
Minumlah api
Makanlah udara
Hisaplah tanah
Lupakan lupa
Lupakan lupa
Lupakan ingat
Lupakan diri
Lupakan orang lain
Lupakan tujuan
Lupakan hutang
Lupakan nasib
Terpujilah para ular
Bisa yang memuaskan nyawa
Lenyap melayang
Jauh ke awan
Terpujilah para ular
Yang menerkam tikus
Masuk ke perutnya yang melingkar
Membutakan nyawa
Membutakan perjuangan hidup
Najis
Taka da yang lebih najis
Dari yang suci murni
Najis
Najislah najis
Biarlah ia menjadi demikian menyenangkan
Dan layak dinikmati
Najis
Biarlah tak ada yang bisa dicuci kembali
Dalam ketakutan akan dosa
Dan kekototoran
Biar
Biarlah dunia semua menjadi najis
Biarlah tak ada yang bersembunyi
Dalam jubah kesucian
Terpujilah para najis
Terpujilah kekotoran
Terpujilah yang berbau memuakkan
Taiku tahi suci
Kencingku kencing suci
Inilah kitab cermin
Yang kelihatan tak berharga
Karena ia najis
Dan bukan untuk mereka
Yang sombong
Pecinta surga
Kalian memang sombong
Hanya menimbulkan duka
Bagi orang lain
Oh para suci
Yang menggenggam pedang
Berlumur darah
Mencengkeram gurat-gurat kata
Penuh ancaman
Dan berteriak atas nama kesucian
Betapa menyedihkannya
Kalian semua
Kibarlah yang bisa dituduh
Menjadi tertuduh
Dan biarlah hukuman
Dilampaui
Tak ada duka
Tak ada lara
Tak ada pertanyaan
Karena para hakim
Adalah para penipu ulung
Daun-daun berguguran di musim salju
Perih
Saat matahari melampaui cakrawala
Perih
Bentangan pegunungan berselimut kabut
Perih
Menunda kemunafikan
Menunda persahabatan
Menunda surga
Mencari neraka
Tong kosong
Memang berbunyi nyaring
Tong kosong
Memang berbunyi merdu
Hargailah nada
Hargailah lagu
Tak ada tong kosong
Tak ada kehidupan
Tak ada keindahan
Desir angin
.....badai....
Binatang
Bernama manusia
Manusia
Bernama tuhan
Dalam gua-gua rahasia
Upacara tersembunyi terjadi
Dihujat oleh mereka
Yang tak mau
Ada perbedaan
Demikianlah keyakinan-keyakinan
Membawa kehidupan
Menjadi bencana
Di dalam bumi
Bergetar kekuatan dahsyat
Api!
Membakar dirinya sendiri
Di atas tanah
Semua yang tumbuh
Menjadi busuk
Bahkan ketika mereka masih hidup
Tumbuh
Tumbuhlah kehidupan
Tunggulah kematian
Dengan tawamu
Awan-awan membawa petir
Menghunjam pohon-pohon
Dan penangkal petir
Demikianlah kekuatan lenyap
Dan bangkit lagi
Karena kebengisannya
Bola kristal
Menangkap masa depan
Dalam rangkulan
Uang receh
Hidup
Seperti permainan kartu
Jalan
Bersih
Kotor
Jalan sumur
Air bersih
Selalu mengandung kutu
Dan jentik-jentik
Hitunglah hari
Satu demi satu
Jam demi jam
Detik demi detik
Hitunglah perubahan
Yang tak terhitungkan
Nikmatilah
Ketidaktahuan
Sesat
Tidaklah membawa kebinasaan
Sesat
Membawa kita
Pada kesempatan lain
Sesat
Memperlihatkan
Pemandangan yang berbeda
Sesat
Adalah jalan yang benar
Dalam kosong ada isi
Dalam isi
Ada tai
Dalam tai
Ada kosong
Dalam kosong
Ada uang
Bebaskan diri
Bebaskan tanpa ragu
Rasakan nikmatnya
Sensasi petualangan
Menikmati segala dunia
Yang sudah diatur
Oleh para orang kaya
Luar biasa
Hebat!!
Kesaktian orang-orang yang bersuci
Menciptakan kota-kota
Mengatur pemerintahan
Menindak para penjahat
Mengganjar para rakyat
Menyantuni anak yatim
Menghargai para budak
Membikin mereka
Kaya
Semakin kaya
Makin demikian kaya
Dan berkuasa
Makin berkuasa
Menjadi luarbiasa kaya
Dan jahat
Rongga-rongga negara
Rongga-rongga keju
Dalam kosong
Ada keju
Makan tomat
Makan apel
Dalam jiwa yang sehat
Terdapat kekejaman juga
Ahli sejarah
Berfihak pada yang menang
Karena merekalah yang bisa membayar
Dan memberi hukuman
Hukum-hukum
Semuanya palsu
Hanya berisi kepalsuan
Kebenaran palsu
Tata tertib palsu
Hanya berteguh
Pada siapa yang menang
Menentukan aturan
Rombongan kaisar
Rombongan presiden
Rombongan penjilat
Para pencari berita
Mendapatkan berita bohong
Dalam kebenaran
Ilmu padi
Makin merunduk
Makin menyembunyikan kesombongan
Dalam pangkat
Tersembunyi ketakutan
Dalam kekayaan
Tersimpan kemiskinan
Dalam kebijaksanaan
Bersemayam dendam
Makanan
Minuman
Membuat tubuh sehat
Dan segar
Adu domba
Tipu muslihat
Membuat tubuh sehat
Dan segar
Semua kitab
Akan rusak dan koyak
Oleh zaman
Dan otak yang pelupa
Semua kita
Akan disanggah
Oleh keyakinan yang baru
Dan sombong
Semua kitab
Juga berisi kesombonan
Semua yang sombong
Memikul kerentaan
Dalam umurnya
Meniru alam
Menaklukkan alam
Takluk oleh alam
Ditiru oleh alam
Alam meniru kekejaman mahluk
Alam menjadi penyimpan fikiran
Fikiran
Hanyalah dendam
Tertawalah wahai orang pandai
Karena kepandaian memuat kebijaksaan
seperti setan linglung
Tertawalah wahai oran pandai
Karena kebenaran seperti setan linglung
Tertawalah wahai orang pandai
Karena beban dosa
Telah dilupakan jauh
Tertawalah wahai orang pandai
Alam bisa ditiru
Tuhan bisa digugat
Dan kebenaran bisa dibalik
Tertawalah wahai oran pandai
Tertawalah saja
Sampai mampus
Payung rusak
Lebih berhara dibanding istana mewah
Pakaian bobrok
Lebih berharga dibanding semua hiasan
permata
Rumput liar
Lebih enak dibandingkan semua hidangan
raja
Jika itu milikku
Kodok buduk hijau
Belajar mengaum
Semua gajah
Ketakutan
Dan lari serabutan
Memijaknya gepeng
Kodok hijau temannya mengaum
Semua gajah berlari ketakutan
Serabutan
Kodok buduk selamat dari pijakan
Dengan bangga
Menjadi pendekar kodok
Lawanlah hati
Jika bersedih
Lawanlah hati
Jika gembira
Lawanlah hati
Jika marah
Lawanlah hati
Jika sedang takut
Lawanlah hati
Jika sedang bingung
Lawanlah hati
Dengan hati
Tertundanya ledakan dunia
Membikin semua mahluk lupa
Lupa memang obat mujarab
Yang harus kita pelihara
Dengan lupa maka semua mahluk akan
bahagia
Bahagia untuk sementara
Dengan ingat maka semua mahluk akan
menderita
Menderita sementara
Dengan hilangnya penderitaan
Lupa pun bangkit
Kita menguasai nyawa
Kita menguasai kehidupan
Kita adalah abadi
Tuhan bagi diri sendiri
...lupa...
Memang indah
Kutukan banyak kehidupan
Meregang nyawa
Menuai kebisuan
Menjajah kehendak
Melampaui gunung-gunung kasih sayang
Menembus cakrawala keheningan
Kebebasan
Adalah tanda
Seorang yang bisa mati
Kehidupan pasti mati
Hanya cara-cara dan waktu
Yang membedakannya
Maka kematian
Adalah kebenaran
Yang licik
Lawanlah kematian
Lawanlah kenyataan
Carilah hidup abadi
Dengan berbagai macam pasir
Hati akan merekatkan nyawa
Hingga malaikat maut
Harus memakai tatah dulu
Untuk merebutnya
Ia pun akan berebur emas
Hingga lupa akan tugasnya
Siapa yang mencipta hati?
Apakah tuhan?
Ataukah dewa kehidupan?
Mengapa cinta selalu menuntut?
Hidup gagal tetap menimbulkan cinta
Jalan keberhasilan adalah jalan cinta
Jalan kebencian juga cinta
Bahkan keraguan dan kepengecutan
Juga cinta
Cinta diri
Cinta abadi
Demikian kata orang
Kesesatan
Adalah ciri
Dari cinta diri
Kebijaksanaan
Adalah ciri dari ketiadaan cinta diri
Yang semu
Namun tersembunyi
Nyawa dibayar nyawa
Tangan dibayar tangan
Mata dibayar mata
Hakim menjatuhkan putusan
Masyarakat menerima
Dengan kagum
Nyawa pun hilang silih berganti
Benar
Luapkanlah sungai-sungai
Yang melindungi dusun-dusun permai
Hingga semua ocehan manusia dan kerbau
Lenyap adanya
Menjadi lengang
Dan menangislah kalian
Untuk diri sendiri
Tambahkan garam
Ke dalam luka
Maka akan terasa
Sakit
Yang bisa dinikmati
Dengan tangis
Sesat-sesatlah para mahluk
Seperti nenek moyang setiap mahluk
Dan anak cucu setiap mahluk
Saling berbagilah
Darah dan bunga
Dan berteriaklah
Menikmati suara-suara musik
Merdu dan tidak merdu
Semuanya membikin bergoyang jiwa
Gila dalam kemabukan
Arak dan api dalam hati
Janganlah menunjukkan jati diri
Kepada tuhan
Beritahu dia
Mengenai sedikit hal saja
Mengenai kesukaanmu
Arak sungguh panas di mulut
Lebih panas di perut
Dan di aliran darah
Sungguh hebat nasib arak
Dinikmati dan dicaci
Demikianlah kehidupan
Barang yang terhormat
Segala yang jinak
Tetaplah liar
Biarpun membudak
Tetapi tersembunyi kemerdekaan
Tutupkah hati
Jadikan bom waktu
Hingga semuanya
Akan meledak sewaktu-waktu
Membuktikan
Bahwa kehidupan
Adalah sebuah kemerdekaan
Yang meluap-luap
Ketakutan
Adalah unik
Seunik madu
Dicampur racun
Tak ada yang lebih unik
Dibanding madu beracun
Atau racun bermadu
Demikianlah para mahluk
Menilai orang lain
Bukan dirinya sendiri
Jangan lupakan hutangmu
Lupakanlah saja hutangmu
Rebut hutangnya
Bayarlah dengan nyawanya sendiri
Luruhlah luruh
Tangguh yang dulu
Kini ketakutan datang
Mencari teman
Cipta ciptalah diri terakhir
Regangkan nyawa
Dalam kubangan darah kebenaran
Tenggelam dalam surga
Memberi makan kepada tuhan
Lemparkan hari
Lontarkan malam
Bantinglah petang
Sekaplah pagi
Putarlah roda-roda ketetapan
Dan kemandegan
Seperti semua raja dan presiden
Bermimpi
Semua yang benar memang salah
Semua yang benar sungguh salah
Semua yang benar
Benar-benar salah
Semua yang kalah
Benar-benar menang
Semua yang menang
Benar-benar mencari kekalahan
Dan memang kalah
Karena benar
Dan salah
Inilah kesalahan
Cara berfikir
Yang semestinya
Dijaga
Oleh mahluk yang muda
Dan renta
Dan sedang tumbuh
Oleh keyakinan
Jika tidak percaya
Maka kalian akan selamat sejahtera
Jika kalian percaya
Maka kalian akan terjerumus
Dalam kesesatan dan penderitaan
Apa saja yang tidak boleh dipercaya?
Apa saja
Kenapa harus membaca?


dikutip oleh.....
OLEH BOEDHI MARGONO
pak_margono@yahoo.co.uk



Inilah kitab cermin seribu
Seribu kitab cermin
Cermin seribu kitab
Juga cermin kitab seribu
Cermin dipecah adalah cermin
Cermin direkat adalah cermin
Saat dibubuk menjadi pasir
Demikianlah kita harus bercermin

Pada pasir
Remuk
Adalah
Sempurna

Kolam indah menjadi cermin
Meluangkan wajah yang bergoyang
Kenyataan memang harus bergoyang
Sebelum diguncang
Tidak ada benar dan salah yang abadi
Yang abadi adalah ketiadaan yang tiada
juga

Kekuasaan yang menimbulkan kesalahan
dan kebenaran
Hanya berumur sebersit
Kekuasaan harus dibasmi
Dibasmi karena ada kebenaran
Kebenaran berawal dari kekuasaan
Berakhir dengan kekuasaan
Berkuasa dengan nafsu
Dan berakhir dengan nafsu
Yang melawan nafsu adalah nafsu
Yang kalah oleh nafsu adalah nafsu
Yang ribut dengan nafsu
Ribut saja ndiri.....

Kuda hitam bukan kuda hitam
Ia adalah bukan kuda
Ia adalah bukan hitam
Ia adalah bukan ia
Dan yang bukan ia adalah mungkin ia

Kuda adalah tipuan
Seperti troya pernah tertipu
Kebenaran pun adalah tipuan
Seperti kita selalu tertipu

Kita sang kota troya
Selalu tertipu oleh kebenaran dan kuda
Segala yang bisa dianggap mungkin

Jangan dianggap benar
Yang dianggap benar
Pastilah hanya kemungkinan
Cahaya bukan cahaya
Ia adalah tipuan dari kegelapan
Kegelapan bukanlah kegelapan
Ia adalah tipuan dari cahaya
Cahaya dan kegelapan selalu menipu
Maka hiduplah dalam keremangan

Pagi dan petang
Kabar dari langit
Kabar dari dewa
Kabar dari tuhan
Semesta adalah hukuman
Kabar dari kesalahan
Kabar dari norma
Segala kubur mereka yang disucikan
Oleh norma dan kemenangan
Semua ada batasnya
Hanya sesaat setelah sejarah terlupa
Zaman dilindas oleh alam
Yang tak mengenal dirinya sendiri sebagai
alam
Alam bukan alam
Karena ia tak menyebutnya demikian
Ia adalah akhirat
Yang bersembunyi dalam perubahan
Semoga kebohongan bisa membuat orangorang
tertawa
Dalam kemengertian
Karena kebohongan yang diangap berhasil
Selalu membuat kagum dan takluk
Bukan tawa
Yang kecil
Adalah yang seharusnya menjadi dasar
Yang puncak
Semestinya adalah raksasa
Demikianlah agar struktur itu terguling
Dengan sendirinya
Raja dan presiden
Semuanya lalim
Karena ia menjadi nama
Yang bernamalah
Yang lalim
Yang tak bernama
Dialah yang dilalimi
Yang bernama
Tak layak disembah
Yang tak bernama
Hanya menyembah dirinya sendiri
Yang menyembah diri sendiri
Menyembah kesedihan
Yang menyembah mereka yang bernama
Adalah yang selalu mencari gembira
Mencari gembira
Pura-pura sedih
Pura-pura tergantung
Pada kehendak yang raksasa
Pura-pura
Sedemikian sedihnya
Tak ada kabar
Dari kehidupan
Tak ada kehidupan yang menuntut
kehidupan
Hanya kematian yang menuntut kehidupan
Demikianlah kebenaran
Menuntut kesalahan
Dan dari semuanya
Kesalahan mengalir
Seperti anak sungai
Seperti ular
Yang meninabobokkan penguasa tunggal
Kekuasaan tunggal
Semestinya menjadi lalim
Segala yang lalim
Semestinya disanggah
Sanggahlah mereka yang lalim
Siapakah yang lalim?
Mengapa kekuasaan selalu lalim?
Segala yang lalim akan menjadi berkuasa
Segala yang berkuasa akan menjadi lalim
Kenapa kenyataan ini tak anda ketahui
semua?
Kenapa kelaliman dan kekuasaan adalah
seperti telur dan ayam?
Di dalamnya terdapat dasar dari kehidupan
Tetapi kehidupan yang mati
Kehidupan yang mati membutuhklan
kematian-kematian
Demikianlah kebenaran bertahan hidup
Seperti drakula
Para mangsa dan budak seperti zombi
Zombie yang masih berdarah
Dan menyerah
Apakah menyerah berarti kalah?
Agaknya kekalahan adalah sebuah peristiwa
lazim
Karena diantara pembunuh
Pasti ada mangsa yang pasrah untuk
dibunuh
Di manakah cinta?
Di dalam batin
Di dalam kasih sayang
Di antara kebuasan
Di mana ada kebencian?
Di antara benci
Kebuasaan
Dan kelemahlembutan
Adalah inti
Ada
Di dalam gerak
Di mana ada gerak?
Dalam ketidakmengertian yang mendalam
dan asli
Apakah keaslian?
Keaslian mungkin tidak ada
Hanya yang bukan asli
Yang bisa kita sebut
Dan kenali
Apakah ketidakaslian
Kebohongan
Keburukan
Kejahatan
Bisa diketahui?
Tidak
Hanya dengan menyebutkan kesedihan dan
kegembiraan
Segala yang membuatnya
Adalah mereka
Demikianlah segala sesuatu adalah
kebusukan?
Tidak
Karena siapa yang bisa menyebutkan
seluruh dunia?
Dan menyebutkan segala sesuatu yang
sudah usang
Adalah bukan asli?
Bahasa adalah keusangan yang setiap kali
asli
Setiap kali adalah kebohongan
Tak ada maaf bagi keaslian
Tuhan,
Sambutlah namaku
Dalam hatiku
Masih ingatkah kau akan namaku?
Apakah sering kau menyebut diriku?
Jika engkau pelupa
Atau sibuk?
Kenapa tak kau akui ?
Kekuasaan adalah lupa
Yang berkuasa selalu lupa
Pasti lupa
Kekuasaan adalah lupa
Kebenaran berarti kekuasaan
Disanalah keduanya saling membelit
Dan semuanya adalah palsu
Palsukanlah sebaai keaslian
Di sana segalanya bisa dijual
Demi perut yang lapar
Dan hati yang emar akan harta dan
kekuasaan
Tak ada gunanya berdebat untuk kebenaran
Kebenaran sudah usang
Seperti kain yang baru disulam
Oleh seribu bidadari
Keindahan adalah usang
Keburukan adalah yang bagus
Dan indah
Dan hebat
Dan perlu dicamkan dalam hati
Hati yang dimabuk oleh derma
Yang membuat pertapaan menjadi bencana
Di dalam perut ada kotoran
Di dalam otak ada kotoran
Dalam doa pun ada kotoran
Dalam kesucian
Kotoran menumpuk
Menjadi kesucian
Kesucian dicari
Kesucian berlalu
Kesucian bertalu-talu
Kebenaran dan kekucian
Demikianlah kekuasaan
Kekuasaan berarti kematian bagi yang lain
Tak layak untuk dibantah
Demikianlah dunia
Tak layak untuk disanggah
Demikianlah sejarah
Tak pernah tertidur
Berjuang melawan alam
Alam semesta seperti mandiri
Dan manusia juga seperti mandiri
Dan tuhan juga seperti tidak ada
Benarkah demikian?
Tanyakanlah pada keutuhan dan kesedihan
kalian
Pasti jawaan akan lain
Dengan kewajaran
Kewajaran
Seperti anak-anak
Yang bertanya
Apakah ini apakah itu
Tetapi semuanya adalah proses belajar
Untuk mengenal bentuk-bentuk
Mengenal bayangan-bayangan
Mengenal cermin-cermin
Inilah kitab cermin
Seribu cermin
Karena satu serupa dengan seribu
Marilah saling berbantah
Marilah saling bertempur
Marilah saling menyalahkan
Maka anda akan menjadi ada
Ada karena ketiadaan
Ketiadaan karena ketiadaan tiada
Adalah yang hanya ada
Demi kata-kata pujian
Bangsat mana yang mencintai kentut?
Mereka yang bersyair dengan merdu
Mencari angkasa raya
Yang luarbiasa bening
Demikianlah juga kentut
Juga bening
Semestinya angkasa belajar dari angkasa
kecil itu
Yang bukan bangsat
Mencintai kentut
Yang bangsat
Tidak mencintai kentut
Robohlah segala kuil-kuil
Yang ada di luar
Maupun di dalam hati
Robohlah kebenaran
Dan keadilan
Dan juga kasih sayang
Robohlah juga mereka yang menentang
ketidakadilan
Siapa yang tidak akan roboh?
Segala mahluk pasti akan roboh
Bahkan yang abadi pun
Pasti akan roboh
Kepastian
Siapa yang bisa mendua?
Kepastian
Hanya milik mereka
Yang tidak mengenal duka
Siapa yang tak mengenal duka
Tak akan menjadi bijaksana
Bagaimana mengenal duka?
Rasakanlah duka
Rusaklah segala yang bisa dirusak
Peliharalah kerusakan
Mengapa kerusakan adalah bukan
kerusakan?
Siapa yang tidak peduli?
Atau peduli?
Kita mestinya percaya
Tak ada yang benar-benar penuh
Atau kosong
Tiada yang penuh
Tiada yang kosong
Tiada yang separuh-separuh
Atau hanya sedikit
Bahkan banyak
Tiada yang jelas
Dan pasti
Atau tetap
Inilah kitab cermin
Yang tanpa cermin
Karena cermin yang memantulkan sesuatu
Adalah bukan cermin
Ribuan nyawa
Berlalu dalam perang
Ribuan cinta
Berkumandang dalam perang
Tertawa bergelak-gelak
Mencari mayat-mayat
Saudara dan lawan
Demikianlah perang bermula
Dan berakhir
Dalam mula
Robohlah kata-kata
Robohlah makna
Robohlah kenyataan
Dan bayangan
Burung-burung kecil
Terbang dalam badai
Bernyanyi riang
Walau nyawa hanya sebersit kecil
Demikianlah juga manusia
Berlalu lalang dalam kendaraannya
Menentang alam
Seperti badai
Dalam sebersit nyawa
Tuntutlah ilmu sampai ke dalam dirimu
sendiri
Dapatkan pengetahuan hingga ke kerak
neraka
Dapatkan nafsumu menggelegak
Itulah jatidirimu
Dari abu ke abu
Dari kosong ke kosong
Dari isi ke isi
Tapi tak ada yang asli
Air suci dicampur kencing
Adalah bukan air kencing yang tidak suci
Air kencing suci dicampur air biasa
Adalah bukan air biasa yang suci
Biarkan tai bercampur dengan emas
Ketika menjadi pusaka
Adalah beban bagi surga
Biarkan surga dan neraka saling berbagi
wilayah
Surga milik neraka adalah neraka yang
tidak indah
Neraka yang indah adalah milik surga
Yang menurun kualitasnya
Janji-janji ditepati
Oleh manusia
Dewa
Setan
Dan semua jenis siluman
Karma dan nasib
Dibagikan secara rata
Oleh tuhan
Dengan cara memejamkan mata
Sudut hari terlupa
Huru hara
Subuh
Dingin
Memikat kematian
Rombongan malaikat maut
Menaiki roda-roda nasib
Bekerja sesuai pesan
Mencari korban
Demikianlah kenyataan
Dibayangkan
Zombie yang percaya
Biarlah menjadi zombie yang percaya
Zombie yang tidak percaya
Tidak lagi menjadi zombie
Bagaimana cara orang bisa membela
kemanusiaan?
Dengan nyawanya
Dengan kekerasan
Dengan membantai musuhnya
Runtuhlah semua peradaban
Runtuhlah semua keyakinan
Peradaban hanyalah keyakinan
Putih bukanlah putih
Roda ajaran
Memutuskan tali nasib
Menjadikannya mandiri
Dan dunia pun tetap tertawa
Dalam tangis
Menangislah wahai burung-burung bebas
Tertawalah ayam-ayam dalam sangkar
Cobalah membunuh diri kalian
Seperti manusia
Siapa yang bisa menafikan mimpinya
Adalah yang agung
Yang agung
Adalah penafi kenyataan
Kekayaan dalam perutmu
Kekuasaan dalam kepalamu
Tentara dalam hatimu
Rakyat dalam taimu
Coba renungkan
Satu ditambah satu adalah dua
Dua dikurangi satu adalah satu
Apel satu dimakan dua
Menjadi dosa asal
Manusia memang berdosa
Karena ia punya iman
Maka berimanlah
Agar kamu ingat akan neraka
Dengan ingat neraka
Maka neraka ada
Terjerumuslah sebagian di antara kalian
Di dalamnya
Oh berkuasalah para raja
Hiduplah selamanya para kaisar
Jayalah para mullah
Biarkan dunia runtuh
Menjadi debu
Agar kita bisa bercermin
Menemukan luka
Yang asli
Dari diri
Di luar ada dalam
Di dalam ada luar
Di tengah ada pinggir
Di pinggir ada tengah
Di atas ada bawah
Di bawah ada atas
Bergeraklah diam
Diamlah gerak
Minumlah api
Makanlah udara
Hisaplah tanah
Lupakan lupa
Lupakan lupa
Lupakan ingat
Lupakan diri
Lupakan orang lain
Lupakan tujuan
Lupakan hutang
Lupakan nasib
Terpujilah para ular
Bisa yang memuaskan nyawa
Lenyap melayang
Jauh ke awan
Terpujilah para ular
Yang menerkam tikus
Masuk ke perutnya yang melingkar
Membutakan nyawa
Membutakan perjuangan hidup
Najis
Taka da yang lebih najis
Dari yang suci murni
Najis
Najislah najis
Biarlah ia menjadi demikian menyenangkan
Dan layak dinikmati
Najis
Biarlah tak ada yang bisa dicuci kembali
Dalam ketakutan akan dosa
Dan kekototoran
Biar
Biarlah dunia semua menjadi najis
Biarlah tak ada yang bersembunyi
Dalam jubah kesucian
Terpujilah para najis
Terpujilah kekotoran
Terpujilah yang berbau memuakkan
Taiku tahi suci
Kencingku kencing suci
Inilah kitab cermin
Yang kelihatan tak berharga
Karena ia najis
Dan bukan untuk mereka
Yang sombong
Pecinta surga
Kalian memang sombong
Hanya menimbulkan duka
Bagi orang lain
Oh para suci
Yang menggenggam pedang
Berlumur darah
Mencengkeram gurat-gurat kata
Penuh ancaman
Dan berteriak atas nama kesucian
Betapa menyedihkannya
Kalian semua
Kibarlah yang bisa dituduh
Menjadi tertuduh
Dan biarlah hukuman
Dilampaui
Tak ada duka
Tak ada lara
Tak ada pertanyaan
Karena para hakim
Adalah para penipu ulung
Daun-daun berguguran di musim salju
Perih
Saat matahari melampaui cakrawala
Perih
Bentangan pegunungan berselimut kabut
Perih
Menunda kemunafikan
Menunda persahabatan
Menunda surga
Mencari neraka
Tong kosong
Memang berbunyi nyaring
Tong kosong
Memang berbunyi merdu
Hargailah nada
Hargailah lagu
Tak ada tong kosong
Tak ada kehidupan
Tak ada keindahan
Desir angin
.....badai....
Binatang
Bernama manusia
Manusia
Bernama tuhan
Dalam gua-gua rahasia
Upacara tersembunyi terjadi
Dihujat oleh mereka
Yang tak mau
Ada perbedaan
Demikianlah keyakinan-keyakinan
Membawa kehidupan
Menjadi bencana
Di dalam bumi
Bergetar kekuatan dahsyat
Api!
Membakar dirinya sendiri
Di atas tanah
Semua yang tumbuh
Menjadi busuk
Bahkan ketika mereka masih hidup
Tumbuh
Tumbuhlah kehidupan
Tunggulah kematian
Dengan tawamu
Awan-awan membawa petir
Menghunjam pohon-pohon
Dan penangkal petir
Demikianlah kekuatan lenyap
Dan bangkit lagi
Karena kebengisannya
Bola kristal
Menangkap masa depan
Dalam rangkulan
Uang receh
Hidup
Seperti permainan kartu
Jalan
Bersih
Kotor
Jalan sumur
Air bersih
Selalu mengandung kutu
Dan jentik-jentik
Hitunglah hari
Satu demi satu
Jam demi jam
Detik demi detik
Hitunglah perubahan
Yang tak terhitungkan
Nikmatilah
Ketidaktahuan
Sesat
Tidaklah membawa kebinasaan
Sesat
Membawa kita
Pada kesempatan lain
Sesat
Memperlihatkan
Pemandangan yang berbeda
Sesat
Adalah jalan yang benar
Dalam kosong ada isi
Dalam isi
Ada tai
Dalam tai
Ada kosong
Dalam kosong
Ada uang
Bebaskan diri
Bebaskan tanpa ragu
Rasakan nikmatnya
Sensasi petualangan
Menikmati segala dunia
Yang sudah diatur
Oleh para orang kaya
Luar biasa
Hebat!!
Kesaktian orang-orang yang bersuci
Menciptakan kota-kota
Mengatur pemerintahan
Menindak para penjahat
Mengganjar para rakyat
Menyantuni anak yatim
Menghargai para budak
Membikin mereka
Kaya
Semakin kaya
Makin demikian kaya
Dan berkuasa
Makin berkuasa
Menjadi luarbiasa kaya
Dan jahat
Rongga-rongga negara
Rongga-rongga keju
Dalam kosong
Ada keju
Makan tomat
Makan apel
Dalam jiwa yang sehat
Terdapat kekejaman juga
Ahli sejarah
Berfihak pada yang menang
Karena merekalah yang bisa membayar
Dan memberi hukuman
Hukum-hukum
Semuanya palsu
Hanya berisi kepalsuan
Kebenaran palsu
Tata tertib palsu
Hanya berteguh
Pada siapa yang menang
Menentukan aturan
Rombongan kaisar
Rombongan presiden
Rombongan penjilat
Para pencari berita
Mendapatkan berita bohong
Dalam kebenaran
Ilmu padi
Makin merunduk
Makin menyembunyikan kesombongan
Dalam pangkat
Tersembunyi ketakutan
Dalam kekayaan
Tersimpan kemiskinan
Dalam kebijaksanaan
Bersemayam dendam
Makanan
Minuman
Membuat tubuh sehat
Dan segar
Adu domba
Tipu muslihat
Membuat tubuh sehat
Dan segar
Semua kitab
Akan rusak dan koyak
Oleh zaman
Dan otak yang pelupa
Semua kita
Akan disanggah
Oleh keyakinan yang baru
Dan sombong
Semua kitab
Juga berisi kesombonan
Semua yang sombong
Memikul kerentaan
Dalam umurnya
Meniru alam
Menaklukkan alam
Takluk oleh alam
Ditiru oleh alam
Alam meniru kekejaman mahluk
Alam menjadi penyimpan fikiran
Fikiran
Hanyalah dendam
Tertawalah wahai orang pandai
Karena kepandaian memuat kebijaksaan
seperti setan linglung
Tertawalah wahai oran pandai
Karena kebenaran seperti setan linglung
Tertawalah wahai orang pandai
Karena beban dosa
Telah dilupakan jauh
Tertawalah wahai orang pandai
Alam bisa ditiru
Tuhan bisa digugat
Dan kebenaran bisa dibalik
Tertawalah wahai oran pandai
Tertawalah saja
Sampai mampus
Payung rusak
Lebih berhara dibanding istana mewah
Pakaian bobrok
Lebih berharga dibanding semua hiasan
permata
Rumput liar
Lebih enak dibandingkan semua hidangan
raja
Jika itu milikku
Kodok buduk hijau
Belajar mengaum
Semua gajah
Ketakutan
Dan lari serabutan
Memijaknya gepeng
Kodok hijau temannya mengaum
Semua gajah berlari ketakutan
Serabutan
Kodok buduk selamat dari pijakan
Dengan bangga
Menjadi pendekar kodok
Lawanlah hati
Jika bersedih
Lawanlah hati
Jika gembira
Lawanlah hati
Jika marah
Lawanlah hati
Jika sedang takut
Lawanlah hati
Jika sedang bingung
Lawanlah hati
Dengan hati
Tertundanya ledakan dunia
Membikin semua mahluk lupa
Lupa memang obat mujarab
Yang harus kita pelihara
Dengan lupa maka semua mahluk akan
bahagia
Bahagia untuk sementara
Dengan ingat maka semua mahluk akan
menderita
Menderita sementara
Dengan hilangnya penderitaan
Lupa pun bangkit
Kita menguasai nyawa
Kita menguasai kehidupan
Kita adalah abadi
Tuhan bagi diri sendiri
...lupa...
Memang indah
Kutukan banyak kehidupan
Meregang nyawa
Menuai kebisuan
Menjajah kehendak
Melampaui gunung-gunung kasih sayang
Menembus cakrawala keheningan
Kebebasan
Adalah tanda
Seorang yang bisa mati
Kehidupan pasti mati
Hanya cara-cara dan waktu
Yang membedakannya
Maka kematian
Adalah kebenaran
Yang licik
Lawanlah kematian
Lawanlah kenyataan
Carilah hidup abadi
Dengan berbagai macam pasir
Hati akan merekatkan nyawa
Hingga malaikat maut
Harus memakai tatah dulu
Untuk merebutnya
Ia pun akan berebur emas
Hingga lupa akan tugasnya
Siapa yang mencipta hati?
Apakah tuhan?
Ataukah dewa kehidupan?
Mengapa cinta selalu menuntut?
Hidup gagal tetap menimbulkan cinta
Jalan keberhasilan adalah jalan cinta
Jalan kebencian juga cinta
Bahkan keraguan dan kepengecutan
Juga cinta
Cinta diri
Cinta abadi
Demikian kata orang
Kesesatan
Adalah ciri
Dari cinta diri
Kebijaksanaan
Adalah ciri dari ketiadaan cinta diri
Yang semu
Namun tersembunyi
Nyawa dibayar nyawa
Tangan dibayar tangan
Mata dibayar mata
Hakim menjatuhkan putusan
Masyarakat menerima
Dengan kagum
Nyawa pun hilang silih berganti
Benar
Luapkanlah sungai-sungai
Yang melindungi dusun-dusun permai
Hingga semua ocehan manusia dan kerbau
Lenyap adanya
Menjadi lengang
Dan menangislah kalian
Untuk diri sendiri
Tambahkan garam
Ke dalam luka
Maka akan terasa
Sakit
Yang bisa dinikmati
Dengan tangis
Sesat-sesatlah para mahluk
Seperti nenek moyang setiap mahluk
Dan anak cucu setiap mahluk
Saling berbagilah
Darah dan bunga
Dan berteriaklah
Menikmati suara-suara musik
Merdu dan tidak merdu
Semuanya membikin bergoyang jiwa
Gila dalam kemabukan
Arak dan api dalam hati
Janganlah menunjukkan jati diri
Kepada tuhan
Beritahu dia
Mengenai sedikit hal saja
Mengenai kesukaanmu
Arak sungguh panas di mulut
Lebih panas di perut
Dan di aliran darah
Sungguh hebat nasib arak
Dinikmati dan dicaci
Demikianlah kehidupan
Barang yang terhormat
Segala yang jinak
Tetaplah liar
Biarpun membudak
Tetapi tersembunyi kemerdekaan
Tutupkah hati
Jadikan bom waktu
Hingga semuanya
Akan meledak sewaktu-waktu
Membuktikan
Bahwa kehidupan
Adalah sebuah kemerdekaan
Yang meluap-luap
Ketakutan
Adalah unik
Seunik madu
Dicampur racun
Tak ada yang lebih unik
Dibanding madu beracun
Atau racun bermadu
Demikianlah para mahluk
Menilai orang lain
Bukan dirinya sendiri
Jangan lupakan hutangmu
Lupakanlah saja hutangmu
Rebut hutangnya
Bayarlah dengan nyawanya sendiri
Luruhlah luruh
Tangguh yang dulu
Kini ketakutan datang
Mencari teman
Cipta ciptalah diri terakhir
Regangkan nyawa
Dalam kubangan darah kebenaran
Tenggelam dalam surga
Memberi makan kepada tuhan
Lemparkan hari
Lontarkan malam
Bantinglah petang
Sekaplah pagi
Putarlah roda-roda ketetapan
Dan kemandegan
Seperti semua raja dan presiden
Bermimpi
Semua yang benar memang salah
Semua yang benar sungguh salah
Semua yang benar
Benar-benar salah
Semua yang kalah
Benar-benar menang
Semua yang menang
Benar-benar mencari kekalahan
Dan memang kalah
Karena benar
Dan salah
Inilah kesalahan
Cara berfikir
Yang semestinya
Dijaga
Oleh mahluk yang muda
Dan renta
Dan sedang tumbuh
Oleh keyakinan
Jika tidak percaya
Maka kalian akan selamat sejahtera
Jika kalian percaya
Maka kalian akan terjerumus
Dalam kesesatan dan penderitaan
Apa saja yang tidak boleh dipercaya?
Apa saja
Kenapa harus membaca?


dikutip oleh.....
OLEH BOEDHI MARGONO
pak_margono@yahoo.co.uk Read More..
 

lanjutan

Template by: Abdul Munir